Friday, December 17, 2010

Kesalahan yang Sama

Mungkin bisa dikatakan untuk yang kesekian kalinya gw melakukan kesalahan yang intinya sama. Entah gw emang udah terlalu gila atau ga bisa belajar dari pengalaman, atau keduanya ga taulah. Makin lama makin parah aja kesalahan yang gw lakuin, gw sadar dan gw tau itu salah, tapi gw ga tau kenapa ga pernah bisa menjauh sedikitpun.

Aku rasa kita emang udah terlalu jauh ya dalam hal ini. Aku tau kamu itu tadi panik, tau banget. Kepanikan kamu tergambar jelas di wajah kamu. Kamu langsung keluar dalam waktu yang cukup lama. Saat kamu ninggalin aku, aku itu jauh lebih panik dari apa yang kamu rasain. Aku ga tau harus gimana, diem salah, keluar salah, aku ga tau mana apa yang sebenernya harus aku lakukan.

Tiba-tiba aja kamu dateng lagi nemuin aku, kamu minta aku buat ke bawah. Pas aku keluar kamu masih sempet ngasih aku senyuman manis. Masih tergambar wajah panik dan takut di wajahmu. Aku berusaha untuk ga menunjukkan kepanikan yang aku rasain, tapi aku ga bisa sepenuhnya buat menyembunyikan semua itu, dan aku tau kamu pasti berpikir kalau aku juga panik. Aku menanyakan bagaimana, tapi seperti biasa aku tidak mendapatkan jawaban yang aku inginkan. Kamu selalu mengalihkan pembicaraan jika aku menanyakan hal yang seperti ini. Padahal aku sudah bertanya dengan nada dan muka yang cukup panik.

Kamu menyuruh aku untuk menunggu di luar dalam waktu yang cukup lama. Itu bukan masalah untukku. Selama apapun itu aku akan tetap selalu menunggumu. Setelah hampir 30 menit aku menunggu, kamu datang dari belakang. Kamu bertanya dengan santainya aku menunggu siapa. Lalu kau bertanya kepadaku mau minum apa. Kau berkata "Mau pocari sweat? Kan biar semangat lagi." Aku menolak saat kamu mau membelikan itu, tapi kamu tetap memaksa.

Kamu masih sempat mengeluarkan canda untukku. Jujur aku tak habis pikir, sebetulnya apa sih yang ada di dalam pikiranmu? Kamu tau ga sih kalau aku itu lagi panik; bener-bener panik. Tapi kamu dengan santainya mengeluarkan canda itu. Secepat itukah kamu bisa melupakan sebuah masalah? Kamu tersenyum kepadaku. Entah apa kamu memang tersenyum atau tersenyum hanya untuk menenangkan hatiku. Kamu berlaku seolah-olah tidak terjadi apapun. Aku tidak pernah mengerti jalan pikiranmu.

Kini sudah tidak aku temukan lagi wajah ketakutanmu. Apa memang semuanya sudah selesai atau kamu berusaha menyembunyikan itu dariku? Padahal kita mengalaminya bersama-sama, tapi kenapa kamu hanya melibatkan sendiri saja. Apa itu yang kamu sebut dengan melindungiku? Kalau memang kamu mau melindungiku, kenapa kamu tidak izinkan aku juga untuk melindungimu?

Dan sekarang setelah peristiwa itu, apa aku masih bisa bertemu denganmu?

Apa kamu masih mengizinkanku untuk datang ke sana?

Jika aku ke sana, apa kamu tetap masih akan melakukan kesalahan yang sama?

Jika aku datang ke sana, harus bersembunyi di mana lagi aku ini?

Apa yang sebenarnya harus aku, kamu, dan kita lakukan?


Mungkin aku memang terlalu egois untuk hal ini, aku hanya memikirkan keadaanmu karena aku sangat khawatir. Padahal jauh dari semua itu seharusnya aku juga memikirkan diriku sendiri. Posisiku juga tidak aman. Tapi entah mengapa aku tidak terlalu mementingkan semua itu, yang terpenting bagiku adalah tetap selalu melihatmu bahagia tanpa ada beban sedikitpun. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku tenang.

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo