Setelah berhari-hari menunda untuk melihat IP, akhirnya saya dapat mengetahui IP saya di semester 4 ini. Ada yang berbeda saat melihat IP semester ini, mulai dari proses hingga saya melihat hasilnya. Selama 3 semester sebelumnya, saya selalu merasa deg-degan setiap kali ingin melihat IP. Mulai dari ketika proses loadingnya sampai dengan di saat saya dapat melihat semua nilai akhir saya. Tapi nampaknya semua deg-degan itu tidak terjadi di semester ini. Semuanya terasa datar-datar aja. Well, memang alhamdulillah IP saya kembali naik semester ini tapi tetap tidak cukup memuaskan bagi saya, yaitu 3,58. Mengetahui IP saya yang pulih ini (seharusnya) saya merasa senang. Tapi kenyataannya tidak. I feel nothing! Saya tidak merasa kecewa, namun juga tidak merasa senang. I don't know, it seems like a heart of numbness. Mungkin sebenarnya saya kecewa karena terdapat target saya yang tidak tercapai, tapi saya tidak dapat merasakan kekecewaan tersebut. Mungkin sebenarnya saya juga merasa senang karena IP saya dapat pulih kembali, mengetahui bagaimana sulitnya saya menghadapi semester ini. Tapi lagi-lagi saya juga tidak dapat merasakan hal tersebut. Mungkin karena saya sudah tidak (terlalu) peduli dengan apa pun yang terjadi dalam perkuliahan saya.
Ada yang beberapa hal yang berbeda selama saya menjalani semester yang kelam ini. Pertama adalah saya merasa menjadi anak yang baik nan manis sekali di semester ini. Kenapa? Well, untuk pertama kalinya saya (benar-benar) memerhatikan dosen ketika mereka sedang mengajar. Dimana biasanya saya selalu sibuk dengan SMS-an, bahkan di mata kuliah paling penting untuk diperhatikan sekalipun. Tapi tidak untuk semester ini. Saya duduk dengan tenangnya, mencatat, dan memerhatikan sang dosen walaupun memerhatikan bukan berarti pikiran saya 100% tertuju pada apa yang disampaikan dosen-dosen saya. Kedua, saya terlihat lebih tenang di semester ini tanpa kebiasaan saya yang selalu sibuk mencari sinyal anytime anywhere. Biasanya saya selalu meletakkan handphone saya di meja, sibuk mencari tempat — yang sudah saya ketahui — cukup baik kondisi sinyalnya. Tapi semester ini handphone saya tersimpan rapi di dalam tas, tanpa pernah saya keluarkan, terutama ketika di kelas. Hanya saat-saat tertentu saja saya mengeluarkan gadget yang satu ini. Ketiga, untuk pertama kalinya saya benar-benar khusyuk saat sedang mengerjakan ujian. Kebiasaan saya yang lainnya yang berhubungan dengan handphone adalah tidak hanya SMS-an saat sedang belajar, bahkan saat sedang ujian pun saya melakukannya. Sekalipun ujian tersebut cukup sulit, menyita waktu yang banyak untuk berpikir dan menulis jawabannya. Namun saya tidak pernah kelewatan untuk membalas SMS yang masuk. Ya itulah saya. Namun demikian walaupun saya SMS-an ketika sedang ujian, saya selalu dapat menyelesaikan ujian tersebut tepat waktu, karena saya mengetahui kalau saya memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan ujian tersebut walaupun kadang waktunya mepet. Tentunya teman-teman saya pun juga sudah sangat mengetahui kebiasaan saya tersebut, dan tidak jarang mereka menegur saya — terutama ketika sedang ujian — agar berhenti sebentar dengan handphone. Ya intinya ini adalah semester pertama saya tanpa disibukkan oleh handphone. Sepi? Pasti! Namun beradaptasi dengan kebiasaan yang sudah lama saya lakukan tentu lebih sulit. Bukan berarti saya maniak dengan handphone atau saya meminta jawaban lewat SMS. Bukan! Hanya saja dibalik semua itu ada yang jauh lebih berarti dari pada diri saya sendiri. Terakhir adalah saya tidak pernah bolos di semester ini. Bolos? Siapa sangka manusia seperti saya ternyata bisa bolos. Well, tidak perlu saya jelaskan apa yang membuat saya bisa membolos. Hanya saja satu hal yang perlu diketahui adalah hal ini tidak sering saya lakukan. Biasanya hanya 1 kali dalam 1 semester. Sebenarnya mahasiswa memang diberikan jatah untuk tidak masuk yang cukup banyak. Lalu mengapa tidak dimanfaatkan? Namun untuk semester ini, seperti yang saya katakan bahwa saya menjadi anak baik nan manis semester ini. Sebenarnya sempat berapa kali saya ingin bolos, namun ada saja yang selalu menggagalkan rencana saya. Hal yang paling sering menggagalkan saya adalah rasa takut dan rasa bersalah saya sendiri untuk melakukan hal tersebut. Bagaimana dengan semester sebelumnya? Kedua rasa itu memang ada, namun ada rasa lain yang berperan lebih kuat untuk mengalahkan kedua rasa tersebut.
Well, seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya bahwa semester ini tidak akan dapat saya lalui dengan mudah. Pikiran saya tidak dapat fokus, kuliah saya berantakan, pokoknya hancur semuanya. Tidak ada sesuatu yang benar-benar dapat saya lakukan dengan benar, dengan sempurna, dan tidak ada satupun dari apa yang telah saya kerjakan yang membuat saya puas. NOTHING!
Seperti biasanya, saya akan membahas sedikit tentang semua mata kuliah yang saya geluti selama semester 4 ini. Dimulai dari Mata Kuliah Umum (MKU) terakhir yaitu Ilmu Sosial Budaya Dasar atau yang lebih akrab disebut ISBD dengan dosen Dr. Eman Surachman, MM yang mempunyai bobot 3 SKS. Awalnya memang saya (cukup) rajin untuk mencatat materi beliau, namun lama-kelamaan saya pun mulai malas untuk mencatatnya karena beliau terlalu cepat mengganti topik yang ditampilkan, ditambah dengan materi yang ditampilkan tersebut tidak ada satupun yang keluar saat ujian. Pak Eman ini merupakan satu-satunya dosen yang tidak pernah absen dari sekian dosen yang telah mengajar saya. Selain itu beliau dapat bertanggung jawab dengan jadwal yang telah diberikan. Baik dari segi hari maupun waktunya. Ini baru namanya dosen yang bertanggung jawab dengan tugasnya. Salut untuk Pak Eman! Anyway, saya cukup kecewa dengan hasil akhir yang saya dapatkan untuk MKU terakhir ini. Target saya untuk mata kuliah ini adalah mendapatkan nilai A. Ketika selesai UTS, saya merasa yakin bahwa saya akan mendapat A untuk ujian tersebut, dan memang benar. Namun ketika UAS, saya kesulitan untuk beberapa soal dan saya pun yakin nilai A akan begitu jauh. Ternyata hal tersebut memang benar. Pada akhirnya saya pun hanya mendapatkan nilai B untuk MKU yang terakhir ini. Kecewa? Pasti! Tapi mungkin itu memang nilai terbaik yang dapat saya raih. Berarti dari lima MKU yang ada, hanya satu yang berhasil mendapat nilai A. Satu lagi, dengan selesainya MKU yang terakhir ini, berarti tidak akan ada lagi MKU di semester berikutnya, dan tidak ada lagi ujian di hari Sabtu.
Mata kuliah selanjutnya adalah Filsafat Ilmu (Fisil) dengan dosen yang sudah tidak asing lagi yaitu Drs. I Ketut R. Sudiardhita. Kayanya gimana gitu ya dengan hal-hal yang 'berbau' filsafat. Pasti yang pertama terlintas di pikiran itu susah, ribet, sulit dimengerti, bahasanya berat, dan lainnya. Tapi nyatanya? Memang benar! Saya sendiri juga tidak (begitu) paham dengan mata kuliah yang mempunyai bobot 2 SKS ini. Padahal ini baru Filsafat Ilmu, belum Ilmu Filsafat yang mana jauh lebih sulit, lebih dalam, lebih luas, dan lebih membuat gila tentunya. Setiap kali saya memasuki kelas ini, saya hanya bisa diam mencatat sambil mencoba untuk 'mencerna' apa yang telah beliau sampaikan. Saat ujian? Jangan ditanya. Pusingnya bukan main. Saya tidak tahu apa yang harus saya tuliskan di lembar jawaban, walaupun pada akhirnya harus tetap saya isi. Mungkin beliau selalu tertawa ketika membaca jawaban dari para mahasiswanya. Namun demikian, walaupun ujiannya susah, tugasnya (cukup) ribet, kadang suasananya deg-degan di kelas, untuk masalah nilai beliau ini baik sekali. Thanks for the A, sir. Walaupun memang seperti yang pernah beliau sampaikan di kelas, "Kita boleh bangga mendapatkan nilai A. Tapi pertanggungjawabannya lebih besar nantinya. Karena saat sidang semua itu akan ketahuan, apakah nilai A tersebut memang layak, atau perlu dipertanyakan". Kalimat itu akan selalu saya ingat pak.
Selanjutnya adalah mata kuliah Ekonomi Pembangunan atau Epem oleh Saparuddin M, SE, M.Si. Ini merupakan pertama kalinya saya diajarkan oleh beliau. Dari sekian mata kuliah yang sudah saya lewati, mata kuliah ini merupakan mata kuliah tersantai yang pernah ada. Bahkan sampai saat ini saya sendiri masih bingung apa yang sebenarnya telah saya pelajari selama satu semester ini. Dosen yang sekaligus Pembimbing Akademis (PA) saya ini tergolong dosen yang (cukup) sibuk. Bahkan di awal perkuliahan beliau sudah mengatakan bahwa hanya akan ada 12 pertemuan (sudah termasuk UTS dan UAS). Sedangkan idealnya untuk mata kuliah dengan bobot 3 SKS adalah 16 pertemuan. Minggu ini ada, minggu depan tidak ada, minggu depannya lagi (mungkin) juga tidak ada, kalaupun ada beliau juga sangat santai begitu masuk kelas. Hanya membawa pulpen atau terkadang ditambah secarik kertas. Just it. Ditambah dengan tidak pernah adanya tugas. Sungguh surga dunia bagi seorang mahasiswa ketika terdapat mata kuliah yang tidak pernah memberikan tugas. Sebenarnya saya selalu merasa sangat mengantuk setiap kali berada di kelas beliau. Pertama, karena saya tidak mengerti materi apa yang disampaikan oleh teman-teman saya. Kedua, saya juga tidak pernah mengerti setiap kali beliau sedang menjelaskan. Hal yang paling saya ingat dari mata kuliah ini adalah perjuangan untuk mengerjakan UTS, yang mana saat itu saya sedang mendapat giliran untuk menjaga Edot. Waktu yang mepet, ditambah saya sudah terlalu capek dan mengantuk ketika pulang karena selama Edot saya selalu sampai rumah di atas pukul 20.00 tentu membuat UTS yang take home ini, yang seharusnya lebih santai untuk dikerjakan dalam waktu beberapa hari menjadi tugas yang harus saya kerjakan dalam waktu kurang dari 24 jam. Bahkan saya memutuskan untuk meninggalkan Edot dan tidak peduli akan segala urusan di dalamnya. Saya lebih memilih untuk menjauh dari Edot dan mengerjakan UTS tersebut. Mata kuliah ini memang sangat santai, namun cukup menguras otak untuk mengerjakan ujiannya. UAS yang beliau berikan pun cukup menguras waktu, tenaga, dan pikiran. Apalagi soal yang diberikan berupa wacana yang sangat panjang sekali, namun pada akhirnya hanya ditanyakan "Apa pendapat Anda tentang masalah tersebut, dan berikan solusinya". Sakit hati. Namun saya tetap berterima kasih kepada Pak Sapar yang telah memberikan nilai akhir saya A. Tentunya nilai tersebut sangat berarti bagi saya.
Mata kuliah keempat adalah Teori Ekonomi Makro dengan dosen — yang seharusnya — Dra. Endang Sri Rahayu, M.Pd namun beliau melimpahkan tugasnya kepada Bapak Haryo Kuncoro. Sebenarnya saya termasuk suka diajarkan oleh beliau, walaupun awalnya cukup deg-degan karena dari info-info 'gelap' yang tersebat bahwa sulit untuk mendapatkan nilai yang bagus dengan beliau, dan banyak yang tidak lulus. Ditambah lagi dengan beliau baru kali mengajar S1. Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai menyukai cara beliau menyampaikan pelajaran. Wawasan beliau begitu luas, dan terbukti beliau merupakan salah satu peneliti muda yang sudah go international. Hanya saja dikarenakan kesibukan beliau membuat jadwal mata kuliah ini selalu berubah-ubah bahkan saat UAS akan dilaksanakan. Belajar dengan beliau harus benar-benar fokus, tidak boleh berpaling sedikitpun, karena tidak fokus sedetik saja, maka akan tertinggal begitu banyak informasi yang beliau sampaikan. Namun karena salah satu jadwal mata kuliah ini dilaksanakan pada pukul 13.30 di hari Selasa di mana saat itu mata sudah terasa berat dan mengantuk, maka sering sekali saya tidak mengerti dengan apa yang beliau sampaikan. Ujian? Jangan ditanya, sudah pasti bikin pusing. Sebenarnya saya sangat merasa deg-degan untuk melihat hasil akhirnya, karena memang soal ujian beliau tidaklah tergolong mudah. Ternyata alhamdulillah saya mendapatkan nilai B untuk mata kuliah dengan bobot 4 SKS ini. Oh iya sedikit tambahan mengenai dosen asli yang seharusnya mengajar mata kuliah ini, yaitu Bu Endang. Saya mulai tidak simpati dengan beliau karena ada satu kejadian yang membuat saya kesal. Memang hal tersebut tidak langsung dan tidak secara personal mengenai diri saya, namun secara tidak langsung saya terlibat. Waktu itu saya dan beberapa teman saya ingin melaksanakan ibadah shalat Zuhur di gedung pasca sarjana. Secara kebetulan, kami bertemu dengan Bu Endang, dan bertanya kepada kami mau ngapain. Saat kami bilang ingin shalat, ibu tersebut langsung marah dan mengusir kami agar tidak shalat di pasca sarjana. Dia mengatakan bahwa S1 ya shalatnya di S1, shalat di pasca bikin malu saja. Bahkan beliau mengancam akan melaporkan kepada Pak Dedi. Tentu saja saya langsung kesal. Ibu itu memang dosen, namun ia tidak memiliki hak melarang kami untuk shalat. Memangnya dia siapa yang melarang orang untuk beribadah? Shalat kan boleh di mana saja asalkan tempat tersebut memang layak untuk shalat. Belum pernah menemui tempat shalat yang memiliki aturan siapa saja yang boleh shalat di tempat tersebut. Tapi ya biarlah masalah tersebut urusan beliau dengan Tuhan saja. Lagi pula tentu saya dan teman-teman tidak akan shalat di pasca sarjana jika tempat shalat di tempat kami bersih, cukup air, dan membuat kami nyaman untuk shalat. Kapok? Tentu tidak, saya masih tetap sering shalat di sana.
Selanjutnya adalah mata kuliah Bank dan Lembaga Keuangan (Lainnya) atau yang biasanya disebut BLK atau BLKL dengan dosen yang bernama Susi Indriani. Sebenarnya saya juga tidak tahu harus menjelaskan apa untuk mata kuliah yang satu ini, karena apa yang kami lakukan di kelas hanyalah menonton drama yang berhubungan dengan materi. Membosankan? Pasti! Ruang kelas yang begitu sempit dan berbau tidak sedap — efek yang memakai kelas tersebut sebelumnya — tentu membuat suasana menjadi tidak kondusif. Satu kejadian lucu yang terjadi pada mata kuliah ini adalah saat sedang UTS, dimana saat itu saya sedang serius-seriusnya untuk mengerjakan soal, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kelas, dan ternyata yang mengetuk pintu tersebut adalah Wulan Safitri (Wulan) yang mana merupakan teman Edot saya dari kelas Non Reguler. Awalnya saya cuek saja begitu mengetahui dia yang mengetuk pintu, karena memang saya tidak ada pikiran apa-apa. Namun tiba-tiba Bu Susi memanggil dan mencari saya dan memberi tahu bahwa Wulan sedang mencari saya. Dari depan pintu, Wulan berkata dengan cukup keras — karena waktu itu saya duduk cukup di belakang — dan berkata "Tukang Coca-Cola datang". WHAT? Memang waktu itu saya sedang bertugas di Edot dan yang bertanggung jawab dengan produk Coca-Cola tersebut adalah saya, tapi bukan berarti saya harus melayani di saat saya sedang ujian kan? Sehingga saya mengatakan kepada Wulan agar orang dari Coca-Cola tersebut menunggu sampai saya selesai UTS. Ketika menjelang UAS akan dilaksanakan, Bu Susi sempat marah dengan kelas kami karena adanya pihak yang tidak bertanggung jawab. Untungnya beliau tidak marah ketika memberikan nilai. Alhasil nilai akhir saya untuk mata kuliah ini adalah A. Thanks to Mrs. Susi.
Berikutnya adalah mata kuliah Ekonomi Koperasi atau Ekop dengan dosen Drs. I Ketut R. Sudiardhita. AGAIN? YES! Cukup kenyang memang semester ini mendapatkan dua mata kuliah yang diajarkan oleh dosen 'dewa' yang satu ini. Sebenarnya saya juga tidak tahu apa yang telah saya pelajari selama satu semester ini. Selama di kelas kerjaan kami hanyalah presentasi. Apalagi saat menjelang UAS beliau meminta agar kami mencari kasus dengan tema yang sama, kemudian di-review dan dipresentasikan secara INDIVIDU. Sontak saja kami semua panik karena membayangkan presentasi sendiri di depan beliau. Sialnya lagi kelompok saya yaitu kelompok 1 mendapat giliran pertama untuk presentasi. Padahal untuk giliran majunya sudah dikocok. Akibat teman saya yang mengambil kertas belum cuci tangan nih jadi sial kan majunya. Untungnya saya tidak mendapat giliran pertama juga, bisa mati berdiri. Saya mendapat giliran keempat dan saya tidak maju karena waktu sudah tidak ada, dan sudah memasuki pekan UAS. Manusia-manusia 'beruntung' yang maju menjadi bahan percobaan hanyalah Kika dan Mba Ros. Untuk nilai akhirnya? Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa Pak Ketut merupakan dosen yang paling baik untuk urusan nilai. Once more I got A mark from Mr. Ketut. Thank you so much sir, you're so kind and I appreciate it.
Selanjutnya adalah mata kuliah Profesi Kependidikan atau yang lebih sering disebut dengan Propen yang diampu oleh Dra. Atiek Sismiati Subagyo dengan bobot 2 SKS. Beliau termasuk dosen non favorit saya karena menurut saya beliau terlalu kaku dalam mengajar. Lucunya lagi beliau juga pernah mengatakan kalau nanti menjadi guru tidak boleh kaku terhadap muridnya. Aduh bu, introspeksi diri dulu dong ah. Memang kadang dosen suka tidak menyadari ketika mengatakan hal yang sebenarnya tercermin di dalam dirinya sendiri. Bahkan mengisi daftar hadir saja dipermasalahkan oleh beliau. Bu, bu, repot banget sih. Tidak banyak yang bisa saya deskripsikan dari mata kuliah ini, but anyway makasih banyak bu buat nilai A nya.
Next adalah mata kuliah Perencanaan Pengajaran, atau Perencanaan Pembelajaran, atau apalah, pokoknya biasa kami sebut dengan Perpeng. Mata kuliah ini diajarkan oleh Siti Nurjanah, SE, M.Si. Awalnya agak terkejut ketika beliau yang mengajarkan mata kuliah ini, karena biasanya beliau mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi. Satu hal yang paling saya ingat dari mata kuliah ini adalah saya menangis ketika selesai UTS. Memang memalukan, namun karena sudah tidak sanggup untuk saya tahan akan apa yang saya alami selama pekan UTS inilah yang membuat saya akhirnya menangis. Well, untuk pertama kalinya saya merasa tidak bisa menjawab apa-apa dari soal yang diberikan. Saya benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Kalau ditanya pendapat, mungkin saya masih bisa mengerahkan segenap logika dan nalar saya. Tapi kalau tentang pengertian dari istilah-istilah yang ada, saya bisa jawab apa tanpa modal belajar sedikitpun. Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya bahwa selama saya bertugas di Edot, saya selalu pulang malam, dan sesampainya di rumah, saya sudah merasa sangat lelah dan mengantuk. Tidak sempat untuk belajar sedikitpun. Sialnya lagi saya mendapat giliran di pekan UTS. Rasanya begitu kesal dengan apa yang harus saya hadapi. Alhasil saya hanya bisa menjawab seadanya dengan apa yang terlintas di benak saya. Begitu selesai ujian, saya langsung keluar dan entahlah semuanya terjadi begitu saja, air mata pun mengalir begitu deras dan cukup lama. Lebih sialnya lagi saat UAS, terdapat soal UTS yang diulang dan saya masih tidak bisa menjawabnya. Untungnya terbantu dengan soal-soal berikutnya. Satu hal yang bisa saya katakan dari mata kuliah ini adalah unpredictable. Mengapa? Karena saya bisa mendapat nilai A untuk mata kuliah yang berbobot 3 SKS ini. Sungguh di luar dugaan.
Mata kuliah terakhir adalah Kewirausahaan (Kewirus) oleh Dra. Tjutju Fatimah. Beliau ini merupakan satu-satunya dosen yang paling suka curhat. Bisa dikatakan setiap mata kuliahnya selalu penuh dengan curhat, mulai dari awal masuk hingga selesai. Beliau paling sering curhat tentang percintaannya. Saya rasa setiap mahasiswa yang pernah diajarkan oleh beliau tahu betul bagaimana kisah percintannya. Satu hal yang saya kasihan adalah setiap kali beliau memberikan tugas, tidak ada satupun dari kami yang mengerjakannya, dan beliau pun juga tidak pernah ingat telah memberi tugas kepada mahasiswanya. Mata kuliah ini mempunyai praktik untuk berjualan, yang mana sudah sering saya sebut yaitu Edot. Banyak hal yang saya dapatkan selama di Edot, mulai dari rasa senang karena menikmati ramainya mahasiswa yang jajan, kesal karena tidak bisa belajar untuk UTS, sampai hal yang paling penting yaitu GAJI! Kalau mengingat gaji yang saya dapatkan selama di Edot ditambah yang diberikan langsung oleh Bu Dita (dosen yang bertanggung jawab untuk praktik kewirus) wah kaya mendadak. Oh iya, karena Edot ini juga saya harus susulan UTS untuk mata kuliah ini sendiri, karena waktu itu jadwal antara kelas saya dengan non reg bentrok, alhasil kelas saya lah yang mengalah untuk susulan UTS. Dan susulan tersebut baru dapat saya laksanakan sudah menjelang UAS. Terima kasih untuk nilai B yang telah diberikan kepada saya, dan tentunya terima kasih untuk gajinya.
Well, kira-kira itulah yang dapat saya ceritakan dari masing-masing mata kuliah pada semester ini. Sebenarnya bisa saya katakan semester ini adalah semester yang tidak (terlalu) tebebani oleh tugas. Karena memang semester ini merupakan semester paling santai yang pernah ada. Berakhirnya semester 4 ini juga berarti saya sudah berhasil melewati 32 mata kuliah dan 89 SKS. Berarti masih ada 55 SKS tersisa. Dan tidak terasa juga saya akan segera 'menginjak' semester 5. Semoga semuanya bisa menjadi jauh lebih baik walaupun saya tahu semua itu akan sangat sulit. Keep spirit, keep strong, and keep roso!!
1:16 PM
Haus der Worter
Posted in: 


0 comments:
Post a Comment