Monday, June 17, 2013

The Absurd Semester

Nampaknya sudah lama sekali blog ini tidak terjamah oleh saya. Bahkan ketika ada beberapa hal yang saya lupa bagaimana caranya ketika saya ingin memperbarui elemen-elemen yang ada di dalam blog saya. Tapi untungnya hal tersebut berlangsung tidak terlalu lama, dan saya pun siap untuk kembali.

Sekilas ingin bercerita kejadian-kejadian apa saja yang telah saya lakukan selama semester yang absurd ini. Mengapa saya katakan "absurd"? Karena sampai saat saya sedang mengetik blog ini pun saya masih bertanya-tanya sebenarnya apa yang telah saya dapat pada semester ini, hal-hal apa saja yang telah pelajari, ilmu apa yang 'menyakut' di otak saya, dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang muncul di benak saya. Ketika saya melihat teman-teman saya yang berasal dari jurusan lain begitu sibuk dengan tugas-tugas mereka, namun ketika saya melihat jurusan saya, atau lebih tepatnya kelas saya, yang saya tahu kerjaan saya selama semester ini hanyalah nongkrong, luntang-lantung tidak punya kelas, pokoknya serba santai. Hal tersebut membuat saya berpikir, "Damn, sekarang semester berapa sih?" Mulai dari awal masuk, sampai UAS, jadwal tidak ada yang pasti, masih suka mencari kelas, bahkan rebutan kelas. Sialnya lagi, ketika UAS selesai entah kenapa tidak ada perasaan lega atau senang dari dalam diri saya. Justru saya malah merasa masih terbebani.


Well, yang lalu biarlah berlalu, walaupun sebenarnya hati saya belum menerima. Tapi daripada dipikirkan terus-menerus. Berubah tidak, bikin tambah sakit iya. Pada kesempatan untuk mem-posting kali ini, saya akan sedikit berbagi tentang kegiatan apa saja yang telah saya lalu di semester yang absurd ini.



Kejadian pertama yang ada di folder foto-foto saya adalah saat salah satu teman saya, Ratna Ajizah (Nana) sedang dalam tugasnya untuk berjualan di Econodot atau yang lebih akrab disebut Edot. Sebenarnya saya juga lupa persisnya waktu itu saya dan teman-teman sedang menunggu kuliah apa yang membuat akhirnya kami memutuskan untuk berfoto ria. 


Selanjutnya foto yang kembali ambil dengan latar belakang Edot. Foto ini diambil saat hari Jumat dan saat itu masih kelompok Nana yang sedang mendapat giliran. Sebenarnya saya tidak punya jadwal di hari Jumat, namun karena ada keperluan untuk mengerjakan tugas kelompok, maka saya pun — dengan berat hati datang ke kampus. Berhubung anggota kelompok saya belum ada satu pun yang datang, karena memang entah kenapa saya selalu datang duluan, dan tidak ada kegiatan penting yang saya lakukan, maka saya pun memutuskan untuk berfoto-foto saja. Hitung-hitung untuk mengisi waktu luang sampai teman-teman saya datang. Satu hal yang saya suka dari foto-foto ini adalah, pencahayaannya. Berhubung foto ini diambil terbilang masih pagi, matahari belum tersenyum terlalu lebar, tidak membuat mata harus sipit melihatnya.


Momen berikutnya yang ada di album saya yaitu saat saya dan teman-teman sedang menunggu kuliah Perencanaan Pengajaran atau Perencanaan Pembelajaran atau Perpeng atau apalah itu sebutannya terserah kalian. Sebenarnya awalnya yang berniat untuk foto-foto hanya beberapa orang saja, namun lama-kelamaan personil yang ikutan pun bertambah (seperti biasanya). Foto yang diambil siang-siang ini cukup menguras tenaga, gaya, dan tentunya baterai handphone saya. Bagaimana tidak, ada 271 foto dalam waktu beberapa menit saja, non-stop. Oleh sebab itu, saya menamakan album untuk foto-foto yang satu ini adalah "Mati Gaya!"


Awalnya segini
Berikutnya adalah foto yang diambil saat sedang mata kuliah Perpeng.  Awalnya hanya saya dan beberapa teman saya saja yang ingin foto-foto. Tapi seperti biasa yang lain tiba-tiba muncul berdatangan dengan cepat seperti virus. Kegiatan ini sempat terhenti karena dosen kami telah datang. Seharusnya saat itu ada simulasi mengajar oleh kelompok 1 yang mana kelompok tersebut terdiri dari saya sendiri. Namun karena saya dan teman-teman tidak tahu harus berbuat apa, tidak ada gambaran sama sekali untuk mensimulasikannya seperti apa. Akhirnya dosen saya pun menyuruh untuk perwakilan kelas mengambil softcopy dari berbagai jenis cara memberikan permainan dalam mengajar. Karena hal tersebut memakan waktu yang cukup lama, dan mengetahui bahwa dosen kami tidak kembali ke kelas untuk beberapa saat karena menyuruh kami untuk berdiskusi dengan kelompok agar menentukan materi sekaligus caranya, maka saya dan teman-teman pun kembali berfoto-foto. Gosh! Mahasiswa macam apa ini yang kerjaannya foto-foto melulu. Seperti biasa, awalnya hanya beberapa, kemudian hampir semua dari perempuan yang ada di kelas, hingga akhirnya satu per satu berguguran karena tidak kuat menghadapi 'serangan' jepretan foto yang bertubi-tubi.
Dosen pergi jadi segini

Mulai pada nemplok kaya nyamuk
Akhirnya tinggal segini




Nah, untuk yang satu ini agak sedikit berbeda. Foto yang satu ini tidak diambil saat saya dan teman-teman berada di kampus, melainkan di rumah saya. Jadi waktu itu saya dan teman-teman habis melaksanakan UTS MKU, berhubung masih pagi, mereka pun ingin bermain ke rumah saya. Sebenarnya terdapat foto saya bersama Rochana Rosmala (Ana/Mba Ros) yang terlihat sangat mirip. Bahkan saya seperti jauh lebih mirip daripada kembarannya. Namun karena satu dan lain hal, saya tidak bisa memasukkan foto tersebut ke blog ini. Anyway hal tersebut tidak berarti saya tidak akan memberikan foto untuk momen yang satu ini. Karena bagaimana pun foto adalah sejarah. Dari awal datang sampai pulang yang kami lakukan hanyalah foto-foto. Mungkin memang dasarnya orang-orang yang gila dengan foto. Bisa dilihat sendiri dari kejadian awal, pasti yang ada di foto orangnya itu-itu saja.


Kemudian untuk foto yang satu ini diambil saat Ellia Humairoh (Ellia) dan Steffi Novratilova (Tepi) sedang bertugas di Edot. Foto ini diambil pada hari Jumat yang mana seperti yang sudah saya katakan sebelumnya bahwa saya tidak mempunyai jadwal di hari Jumat. Namun, karena saya tidak ada kerjaan di rumah, maka saya pun memutuskan untuk datang ke kampus, dan yang pastinya lumayan pulangnya bisa mendapatkan gratisan dari kelompok ini. Bahkan lucunya lagi, saya membawa pulang barang 'jarahan' jauh lebih banyak dari kelompok ini dibandingkan dengan kelompok saya sendiri. Kalau gitu seharusnya dari rumah saya menyiapkan banyak kantong untuk membawa barang-barang tersebut.


Selanjutnya adalah foto yang diambil setelah mata kuliah Ekonomi Pembangunan atau Epem. Sebenarnya waktu itu kelas saya hanya presentasi tanpa dosen. Tapi ya seperti biasanya, pantang melihat handphone menganggur, alhasil saya dan teman-teman pun langsung mengeluarkan jurus masing-masing untuk bergaya. Hanya saja, berhubung Epem adalah mata kuliah terakhir yang selesainya juga sudah cukup sore, sehingga tidak terlalu banyak foto-foto yang diambil pada saat itu. Namun tetap saja lebih baik sedikit daripada tidak sama sekali.

Ini adalah salah satu foto yang paling saya sukai. Kenapa? Karena foto ini menggambarkan bahwa saya, Riska Oktavia (Kika), dan Tepi habis 'berburu' minuman gratis. Awalnya kami sudah mendapatkan minuman ini saat ingin menuju Edot. Namun saat sudah sore, kami melihat bahwa orang-orang yang sedang promosi atau membagikan minuman gratis ini melewati depan Edot dan sedang menawarkan pada mahasiswa pasca sarjana. Sontak saja, kami pun ingin untuk mendapatkan minuman tersebut untuk yang kedua kalinya, karena minuman tersebut memang enak. Bukan mahasiswa namanya kalau tidak suka gratisan.
Awalnya kami malu-malu, karena tidak tahu bagaimana caranya agar bisa mendapatkan minuman tersebut, karena kami tidak mungkin meminta. Berharap bisa mendapatkan untuk kedua kalinya saja sudah cukup memalukan, tidak mungkin kami lebih mempermalukan diri kami sendiri dengan meminta minuman tersebut. Berhubung karena kami berisik, akhirnya salah satu dari mas-mas yang sedang menawarkan minuman tersebut menawarkan Tepi, dan Tepi pun memanggil saya dan Kika untuk ikut. Challenge accepted!



Untuk momen yang satu ini adalah edisi trakirannya Tepi. Waktu itu sedang ada acara EA Sport. Karena siangnya ada pertandingan basket, maka Penanggung Jawab (PJ) dari mata kuliah yang siang yaitu mata kuliah Teori Ekonomi Makro atau yang lebih akrab disebut Makro memutuskan untuk meniadakan mata kuliah tersebut. Sialnya, hal tersebut baru dikabarkan saat saya dan beberapa teman saya sudah sampai di kampus. Satu hal yang membuat saya kecewa adalah karena mata kuliah tersebut terbilang sulit dan sudah mendekati UAS, dan seharusnya pada saat itu kelas kami mengadakan latihan soal, alhasil semuanya batal. Berhubung saya terlalu malas untuk menonton pertandingan basket tersebut, dan hanya tersisa beberapa saja yang berada di kampus, Tepi pun mengajak saya dan Kika untuk makan. Awalnya kami ke Blok M (istilah kantin yang berada di kampus), namun karena sangat ramai, kami pun pergi ke tempat es durian yang berada di sekitar Labschool. Namanya juga mahasiswa ga jelas, kalau ga nongkrong, foto-foto, ya makan. Ekspektasi awal kami dari es durian tersebut tentunya enak dan menggugah selera. Namun setelah dicicipi, sungguh mengecewakan. Tidak direkomendasi untuk makan es di sana bagi kalian yang ingin ke sana.



Untuk momen yang satu ini mungkin bisa dikatakan momen yang tidak akan pernah saya lupakan. Setelah empat semester menjalani kuliah, akhirnya ada satu hal yang berhasil membuat saya meninggalkan satu kenangan. Walaupun sebenarnya kenangan tersebut bukanlah kenangan yang menyenangkan atau membanggakan. But, well, who cares? Judulnya tetap kenangan. Masih dalam rangkaian acara EA Sport yang mana (kebetulan) kelas saya masuk ke babak final untuk tarik tambang putri. Sebenarnya tadinya saya menjadi penonton yang tugasnya duduk manis ketika kelas lain main, dan berdiri di sekitar area ketika kelas saya yang main, yang katanya Ana a.k.a Mba Ros, Ellia, dan Tepi saya terlalu "cool" saat menonton. Dimana ketika yang lain berteriak penuh semangat untuk mendukung teman-teman kami, atau ada yang gregetan karena melihat pertandingan yang begitu seru, but how about me? Kata mereka saya hanya berdiri dengan tenangnya menyaksikan pertandingan tersebut. Win or lose? I don't care. Just stay cool. Mungkin sih ada benarnya juga kata mereka. Entahlah, tidak ada yang membuat hati saya tergerak untuk bersorak-sorak seperti lain. Anyway, di babak final saya ikut main lho. Sebenarnya saat melihat pertandingan, saya ingin sekali bermain, karena rasanya sudah lama sekali tidak bermain tarik tambang. Terakhir kali saya main yaitu saat saya kelas XI dan ketika sekolah mengadakan lomba 17 Agustus. Actually, saya tidak mengetahui persis apa yang membuat saya tiba-tiba begitu inginnya untuk bermain. Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa saya telah membuat kenangan yang tak terlupakan melalui perlombaan ini. Exactly! Hanya dalam hitungan detik, tangan kanan saya terkilir. Tidak hanya itu, tangan kiri saya pun berdarah. How pity I am. Tangan saya yang berdarah pun segera diobati oleh Nana, dan yang kiri diurut juga olehnya. Tidak hanya itu, bahkan dia menyuapi bekal makan siang saya. Saat itu Nana memang lagi romantis-romantisnya bersama saya. Bahkan sambil makan pun, ada Eha yang juga mengurut tangan saya. Sungguh membuat saya terharu. Dalam sekejap tangan saya pun membengak bukan main. Menang sih, tapi sakitnya itu lho. Well, setidaknya saya telah membuat sesuatu yang tidak akan pernah saya lupakan.



Selanjutnya ada foto-foto setelah simulasi Perpeng. Entah kenapa mata kuliah Perpeng menjadi sarana untuk berfoto, baik sebelum, sedang, maupun sesudah. Saya lupa persisnya saat itu giliran kelompok berapa yang sedang maju, namun yang pasti mereka menggunakan properti yang bisa dijadikan untuk foto-foto. Sebenarnya banyak ekspresi-ekspresi lucu dari foto-foto ini, terutama berasal dari Kika dan Tepi. Namun karena keterbatasan ruang dan waktu, maka saya tidak akan menampilkannya.



Dan momen terakhir berasal dari Tim Roso. Momen terakhir ini diambil setelah kami selesai UAS Makro yang begitu sulit dan di luar dugaan. Hanya saja kami menutupi semua penat kami dengan berfoto sebagai salah satu sarana untuk me-refresh otak kami. Hanya saja personil dari Tim Roso ini kurang satu, yaitu Kika, karena dia sudah lenyap terlebih dahulu entah ke mana tanpa memberi tahu kami. Alhasil dia pun melewatkan foto dengan seragam seperti ini, padahal dia juga sudah memakai baju dengan warna yang sama.

Well, kira-kira itulah beberapa momen yang berhasil 'tertangkap' oleh kamera. Kesimpulannya adalah semester ini penuh dengan ketidakjelasan dan ketidakpastian. Semoga saja kejadian ini tidak terulang kembali.


0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo