Tidak terasa ini sudah memasuki tahun kelima dalam perjalanan cintaku setelah enam tahun dekat denganmu, dan tujuh tahun aku mengenalmu.
Lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengenal kepribadianmu lebih dalam.
Lima tahun juga bukan merupakan waktu yang singkat bagi kita saling mengenal dan memahami satu sama lain.
Tahukah kamu, kamu selalu terlihat tampan di mataku.
Entah aku mencintaimu karena ketampananmu, atau kamu terlihat tampan karena aku mencintaimu.
Ada perasaan tersendiri yang aku rasakan saat kedua tanganku memegang wajahmu, setiap kali kubelai lembut wajahmu, batinku berkata "Betapa tampannya orang yang sedang berada di hadapanku ini", aku yakin kamu dapat merasakan belaian kasih sayang saat aku menyentuh wajahmu.
Saling mengerti, berbagi cinta dan kasih, mungkin juga termasuk menjalin hubungan.
Hanya saja terkadang aku berpikir betapa menyedihkannya nasibku ini.
Selama lima tahun aku menyayangi dan mencintaimu, namun selama lima tahun itu pula aku tidak dapat memilikimu, dan selama lima tahun itu pula aku tidak bisa melepas dan berpaling darimu.
Jangan tanyakan tentang apa yang aku harapkan darimu, karena sesungguhnya aku tidak pernah mengharapkan apa-apa darimu.
Karena bagiku kebahagiaan sangatlah sederhana, yaitu saat aku bisa berada di dekatmu, dan kau tersenyum padaku.
Itu semua kulakukan atas dasar aku tulus mencintaimu.
Aku menyayangi dan mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku.
Akulah raga, dan kamu adalah jiwanya.
Dapat kau bayangkan bagaimana raga tanpa adanya jiwa?
Itulah aku tanpa dirimu.
Memimpikan kau menjadi bagian dalam hidupku memang hal yang sering kualami.
Ketika aku merindukanmu, rasanya hati ingin sekali menjemputmu dari alam mimpi dan memelukmu dalam alam nyata.
Tidak tahukah kamu betapa aku sangat menikmati mimpi indah tersebut?
Tetapi juga tidak jarang aku merasa sangat kecewa saat aku terbangun, karena ku tahu semua itu tidak lebih dari hanya sebuah mimpi.
Jika memang memilikimu hanyalah sebuah mimpi, teruslah menjadi mimpi yang indah untukku.
Dimana aku dapat dengan bebas dan sepenuhnya memilikimu.
Dimana aku bisa merasakan betapa senangnya bisa memilikmu.
Dan jika aku hanya dapat bertemu denganmu dalam mimpi, maka jangan bangunkan aku.
Aku juga ingin seperti yang lain, aku ingin seperti mereka yang ada di sekelilingku.
Aku juga ingin merasakan mempunyai seorang kekasih, seseorang yang begitu kucintai yang dapat dengan bebasnya aku hubungi tanpa harus berpacu dengan waktu.
Seseorang yang selalu ada disaat aku ingin bercerita tanpa harus menunggu datangnya waktu yang tepat.
Seseorang yang selalu ada ketika aku ingin berbagi kebahagian, dan bisa menjadi tempat bersandar ketika aku sedih.
Bukan berarti kamu tidak seperti itu.
Kamu istimewa.
Kamu adalah seseorang yang lebih dari sempurna.
Hanya saja aku tidak dapat merasa semua kesempurnaan itu karena aku tidak dapat memilikimu.
Aku selalu ingin berada di dekatmu.
Menghabiskan hari-hari ku denganmu.
Kita memang tahu sama tahu satu sama lain.
Kamu tahu aku mencintaimu, dan aku tahun kamu mencintaiku.
Karena tidak ada rahasia di antara kita.
Setiap kali kamu bertanya, aku tidak tidak pernah mampu untuk menjawab alasan mengapa aku mencintaimu.
Karena yang ku tahu, di dalam hati dan mataku hanya ada kamu satu-satunya.
Ada beribu-ribu hal yang sebetulnya ingin aku tanyakan kepadamu, namun biarlah hal itu tetap menjadi pertanyaan di dalam benakku.
Aku tidak akan memaksamu memberiku sebab dan alasan, karena aku tidak ingin kamu terbebani.
Tapi setelah lima tahun aku menjalani semua ini, rasanya semua itu begitu sulit bagiku.
Tidak dapat dipungkiri seseorang yang aku inginkan tersebut adalah dirimu, walaupun aku begitu menyadari hal itu tidak akan pernah terjadi, tapi sampai kapan pun aku akan terus menunggumu, dan kau akan selalu menjadi impianku.
Kalau pun memang suatu saat nanti aku harus mempunyai seseorang yang kelak akan mendampingiku, itu bukan berarti aku sudah tidak mencintai dan menyayangimu.
Aku akan selalu dapat mencintai dan menyayangimu, dan kau akan selalu mempunyai tempat yang istimewa di hatiku, yang tidak ada seorang pun dapat menggantikannya.
Karena aku terlalu menyayangimu, bahkan terlalu mencintaimu.
Rasanya aku ingin sekali memelukmu erat-erat dan menangis di depanmu, di hadapanmu, menangis sekencang-kencangnya tanpa perlu kau ketahui sebabnya.
Memang sakit kalau mengetahui kenyataannya, tapi aku tidak akan pernah meragukan cintamu sedikitpun.
Aku tidak pernah berharap menjadi orang yang paling penting dalam hidupmu, karena itu merupakan permintaanku yang terlalu besar.
Aku hanya berharap suatu saat nanti jika kau melihatku kau akan tersenyum dan berkata "Dialah orang yang selalu menyayangiku".
Sejujurnya tidaklah mudah bagiku dalam menjalankan semua ini, menjalankan suatu hubungan yang tidak jelas arah dan tujuannya, dan tanpa ada ikatan yang pasti.
Aku mencintaimu dengan segenap hatiku walaupun aku tahu semakin aku mencintaimu, maka akan semakin sulit aku melepaskanmu, dan semakin banyak rasa sakit yang akan aku rasakan.
Namun aku berusaha untuk selalu kuat dalam menjalani semua ini, karena tidak mungkin aku mampu bertahan selama lima tahun jika aku tidak kuat menjalaninya.
Jika mencintaimu adalah suatu kesalahan, lantas aku tidak ingin menjadi yang benar, karena aku tahu mencintaimu adalah pilihan hatiku.
Sekarang aku berusaha untuk berhenti bertanya mengapa.
Mulai dari mengapa kita bertemu, mengapa kita bisa menjadi sangat dekat, mengapa kita menjadi saling jatuh cinta, mengapa kita melakukan semua ini, dan jutaan pertanyaan mengapa lainnya.
Karena aku sadar, tidak ada satu pun di antara kita yang dapat menjawab pertanyaan mengapa tersebut.
Hal yang menghiburku adalah saat kau mengenakan baju yang aku berikan saat kamu tidak bersamaku.
Mungkin kamu memang tidak bersamaku, tapi di balik semua itu aku ada di dalam hatimu, melekat pada dirimu lewat simbol dari baju yang kamu kenakan.
Aku ini hanya sebuah benih.
Benih yang tanpa sengaja tertiup dan terbawa oleh angin yang tanpa disengaja melekat pada dirimu.
Lalu kamu merawatku dengan penuh perhatian dan kasih sayang, sehingga benih tersebut terus tumbuh.
Mungkin seharusnya kamu membunuh benih tersebut sebelum tumbuh menjadi tanaman liar.
Sekarang benih tersebut sudah tumbuh semakin besar, dan akarnya pun semakin dalam dan kuat.
Aku semakin tidak bisa melepaskan diriku dengan akar yang sudah ternanam begitu dalamnya.
Kamu mengetahui kalau akar itu sudah terlanjur terlalu dalam, tetapi kamu tetap merawatnya dengan kasih sayang.
Kemudian aku pun menyadari, kamu adalah orang yang begitu berharga dalam kehidupanku.
Walaupun kini tanaman tersebut sudah dapat hidup sendiri dan mandiri, tetapi aku tetap membutuhkanmu.
Dan aku pun tidak ingin kamu membunuh tanaman tersebut, aku ingin terus melakukannya bersamamu.
Aku ingin kamu terus merawat tanaman tersebut, dan aku akan menjaga diriku agar tanaman tersebut tetap pada jalurnya dan tidak bercabang.
Biarlah kita menjalani seperti semua ini.
Menjalani dan menikmati apa adanya.
Dan biarlah waktu pula yang nantinya akan menjawab semua pertanyaan kita.
8:00 AM
Haus der Worter
Posted in: 


2 comments:
met menunggu yawww... kapan ada statusnya?
status ga penting, gue udah menikmati yg ini kok
Post a Comment