Wednesday, July 2, 2014

Fight for My Semester

Selamat datang di semester 6. Semester dimana mental mahasiswa sangat diuji. Tugas yang tambah menggila, praktik sana sini, pelatihan ini itu, uang habis selancar air yang sedang mengalir. Well, itulah kira-kira gambaran di semester 6 yang merupakan semester terakhir dari tahun ketiga.

Walaupun serba habis-habisan (mulai dari tenaga, waktu, dan uang) tapi rasanya semua itu cukup terbayar bagi saya dengan hasil yang terbilang cukup memuaskan di semester ini. Setidaknya saya berhasil bangkit dari keterpurukan semester lalu yang membuat saya sangat sangat sangat sangat terpukul melihat IP saya.


Salah satu seragam untuk mahasiswi, kebaya encim
Dimulai dari mata kuliah Strategi Belajar Mengajar oleh Dra. Endah S.M. yang tentunya sudah tidak asing lagi bagi saya, teman-teman, dan mungkin kalian yang suka membaca blog saya. Yes! Saya sudah diajarkan oleh beliau sebanyak empat kali. Karakter beliau sudah sangat saya pahami, beserta apa saja yang beliau inginkan selama pembelajaran. Well, Strategi Belajar Mengajar atau yang lebih akrab disebut SBM merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diambil dan menjadi salah satu syarat untuk mengikuti Praktik Keterampilan Mengajar (PKM) pada semester berikutnya. Bahkan untuk mengikuti kuliah SBM pun ada syarat terlebih dahulu yaitu lulus mata kuliah Perencanaan Pengajaran dan Evaluasi Pendidikan dengan nilai B. Sedangkan untuk mengikuti mata kuliah PKM harus lulus untuk mata kuliah SBM dengan nilai B juga.


Keluarga Ekop Reg Bersama Bu Endah
Di awal pertemuan, Bu Endah langsung menjelaskan mengenai peraturan-peraturan apa saja yang harus ditaati, terutama untuk pakaian. Khusus untuk mata kuliah ini, dua bulan sebelum UTS, mahasiswa sudah tidak lagi diperkenankan memakai celana jeans. Melainkan celana bahan bagi mahasiswa dan celana bahan atau rok bagi mahasiswi. Sedangkan dua bulan setelah UTS, mahasiswa harus memakai baju formal, batik, dan kebaya secara bergantian sesuai dengan jadwal. Tidak ada sandal, sejenis crocs, apalagi jeans. Bahkan beberapa kali sebelum memasuki kelas, saya dan teman-teman harus belajar jalan terlebih dahulu. Hal paling lucu yang masih saya ingat adalah karena pada waktu belajar jalan, mahasiswa harus masuk ke ruang kelas satu per satu, dan pada saat itu saya sedang terlalu malas untuk memakai celana bahan (apalagi rok), jadi saya memutuskan untuk memakai jeans yang agak longgar berwarna hitam. Sekilas jeans yag saya kenakan ini memang mirip dengan celana bahan, apalagi jika dilihat dari jarak jauh. Namun saat giliran saya masuk, Bu Endah mencurigai saya memakai celana jeans, mungkin karena saat semua mahasiswa disuruh ke luar kelas, saya terlihat sedang membetulkan celana saya sambil berharap tidak ketahuan kalau saya memakai celana jeans. Saat ditanya apakah celana yang saya pakai jeans, dengan cepatnya saya menjawab "Semi bahan bu". Lucunya adalah Bu Endah percaya walaupun dengan muka yang bingung. Entah berpikir apakah iya memang ada celana semi bahan, atau berpikir bahwa saya hanya menghindar, entahlah. Tapi yang jelas saya lolos dari sesi pemeriksaan tersebut.



Satu-satunya yang paling menguras tenaga dan pikiran adalah karena mata kuliah ini mengharuskan untuk belajar praktik mengajar. Mulai dari pra microteaching sampai dengan microteaching. RPP rombak berkali-kali, membuat materi, kunci jawaban, skor, banyak pokoknya! Satu hal yang tidak berubah dari kuliah bersama Bu Endah adalah ujiannya. Yes! UTS dan UAS yang rasanya sudah sangat dihapal oleh mahasiswanya. Untuk UTS, saya mendapat nilai yang terbilang baik walaupun dengan sistem penilaian beliau yang sampai saat ini dan mungkin seterusnya saya tidak akan pernah setuju. Tapi jangan tanya soal UAS-nya. Semuanya benar-benar di luar dugaan, apalagi harapan. Tidak ada satupun materi yang dipelajari keluar di soal. Tidak hanya itu, pertanyaannya yang diberikan pun cukup membingungkan, apalagi jawabannya. Tapi ya sudahlah, walaupun penuh kerja keras menjalani mata kuliah yang satu ini, rasanya semua terbayar ketika mengetahui nilai akhir yang saya dapatkan adalah A. Thank you so much.

Next, ada Kajian Kurikulum atau Kajikur oleh Dra. Endang Sri Rahayu, M.Pd. Saya rasa tidak perlu panjang-panjang untuk menjelaskan mata kuliah yang satu ini karena memang saya terlalu malas untuk menceritakan tentang dosen yang satu ini. Selain karena memang saya yang sudah terlanjur kesal dengan dosennya pada semester-semester sebelumnya. Pada semester ini pun sama. Saya hanya merasa mendapat omelannya saja. Nilai yang didapatkan pun juga bukan berdasarkan nilai yang seharusnya saya rasa. Tapi ya sudahlah, nilai B bagi saya juga sudah cukup.

Kemudian mata kuliah Ekonomi Publik oleh sang master FE, Dr. Haryo Kuncoro, SE., M.Si. Nampaknya saya sudah kehabisan kata-kata untuk menceritakan tentang beliau. Saya selalu merasa terpukau setiap kali berada di kelas beliau. Setiap kata-kata yang dikeluarkan rasanya membuka pikiran setiap mahasiswa dan membuat mahasiswa berpikir layaknya kaum intelektual. Saya rasa beliau sangat pantas untuk dicalonkan sebagai menteri perekonomian, dan saya yakin perekonomian Indonesia akan lebih maju di tangan beliau yang menurut saya sangat jenius.

Mata kuliah beliau merupakan satu-satunya mata kuliah yang bagi saya sangat sayang dan rugi jika dilewatkan. Bahkan teman-teman saya pun juga sependapat dengan saya. Terlewat sedetik saja, rasanya saya sudah melewatkan berbagai informasi penting yang disampaikan oleh beliau, apalagi kalau tidak hadir. Satu hal yang paling saya ingat dari mata kuliah beliau adalah ketika beliau menanyakan tentang sebuah kurva yang pernah dijelaskan pada semester sebelumnya, dan karena satu kelas belum ada yang menjawab, Pak Haryo pun mengatakan bahwa jika ada yang dapat menjawab, nilai UTS akan terjamin, dan saya pun mencoba dan ternyata saya berhasil menjawab. Beliau pun menghadiahkan saya nilai yang sudah pasti B untuk UAS saya. WOW! Nilai B untuk mata kuliah Pak Haryo? Itu benar-benar luar biasa, karena memang sangatlah sulit untuk mendapatkan nilai aman seperti itu pada mata kuliah beliau. And you what? Saya mendapatkan nilai akhir A untuk mata kuliah beliau. Setelah sekian mata kuliah yang beliau ajarkan, untuk pertama dan terakhir kalinya saya mendapatkan nilai A. SUPER!

Selanjutnya yaitu mata kuliah Ekonomi Regional dan Perpajakan oleh Tuty Sariwulan, SE., M.Si. Untuk mata kuliah Ekonomi Regional menurut saya termasuk mata kuliah yang cukup santai. Tidak ada tugas yang membebani, hanya tugas untuk presentasi kelompok. UTS dan UAS pun hanya dari peta konsep. Andai semua mata kuliah seperti ini, surga kuliah pastinya! Lain halnya dengan Perpajakan. Pada semester ini, di semester enam ini, untuk pertama kalinya saya menjadi PJ (penanggung jawab) mata kuliah! Itu pun bukan kemauan saya, melainkan kemauan teman-teman saya, karena Bu Tuty merupakan dosen yang bisa datang sangat pagi untuk kuliah, yaitu pukul 06.30 dan tidak telat. Maka dari itu, teman-teman saya menunjuk saya dengan alasan hanya saya yang dapat datang super pagi, tidak pernah telat, dan alasan-alasan lainnya. Sebenarnya saya memang paling malas untuk mengurus hal-hal yang berkaitan dengan dosen. Namun, mengingat keinginan saya waktu semester satu, yaitu ingin menjadi PJ mata kuliah beliau nantinya, dan mungkin keinginan tersebut terkabul.

Hampir sama dengan mata kuliah Matek pada semester satu, mata kuliah Perpajakan pun juga mencakup hitung-hitungan, walaupun ada diselingi dengan beberapa teori yang berkaitan dengan peraturan mengenai pajak. Cukup pusing, namun juga cukup menyenangkan. Alhamdulillah nilai A untuk kedua mata kuliah yang beliau ampu.

Berikutnya mata kuliah Ekonomi Internasional (Ekin) dan Ekonometrika (Ekomet) oleh Dicky Iranto, SE, M.Si. Well, bisa ditebak mata kuliah yang sebenarnya cukup rumit tapi santai. Mata kuliah Ekin masih membutuhkan sedikit pengertian, rajin membaca, dan memperhatikan beliau ketika menjelaskan, dan karena beliau memang menjelaskan. Namun untuk Ekomet? Bahkan sampai sekarang pun saya tidak mengerti sedikit pun mengenai mata kuliah tersebut. Terlalu banyak rumus, buku yang sulit dimengerti, bahkan kalau saat menjelaskan mata kuliah Ekin, Pak Dicky menjelaskan sambil berdiri, namun untuk Ekomet, beliau menjelaskan sambil duduk. Mungkin karena saking rumitnya mata kuliah tersebut, dan beliau memaklumi jika mahasiswa tidak (terlalu) tertarik untuk menyimaknya. Untuk hasil akhirnya tentu sangat sangat sangat disyukuri karena saya mendapatkan nilai B untuk kedua mata kuliah tersebut.

Terakhir, mata kuliah Manajemen Pemasaran (Manpem) oleh Dra. Tjutju Fatimah. Dosen yang sangat santai, baik, dan tidak memberatkan mahasiswanya. Setiap kali kuliah beliau, cukup mendengarkan yang sedang maju presentasi, tanpa ada tugas tambahan, ataupun yang lainnya. Rasanya kehadiran mata kuliah beliau menjadi penyejuk di semester ini, karena disela-sela kesibukan untuk mengerjakan tugas dari mata kuliah yang lain, sedangkan beliau tidak pernah memberikan tugas. Apalagi beliau sangat hobi bercerita. Sehingga sering kali setiap kali mahasiswa yang presentasi telah selesai, beliau pun bercerita tentang kehidupannnya. Bahkan mata kuliah ini merupakan satu-satunya mata kuliah yang saya dan teman-teman tidak belajar ketika UTS dan UAS. Nilai akhirnya pun juga cukup bagi saya, B untuk Manpem.

Cukup memuaskan jika melihat nilai-nilai saya pada semester ini. Dari delapan mata kuliah, saya mendapatkan nilai yang seri. Empat nilai A, dan empat nilai B, dengan IP 3,58. Alhamdulillah, tidak terlalu mengecewakan walaupun dijalani dengan perjuangan yang maksimal. Terima kasih untuk semua dosen pada semester enam yang telah berbaik hati untuk memberikan nilai.

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo