Saturday, December 20, 2014

PKM Sega (Part 1)

PROLOG

Sebenarnya saya bingung harus cerita dari mana, mulainya bagaimana, dan apa aja yang harus diceritakan, karena mata kuliah Praktik Keterampilan Mengajar (PKM) ini begitu banyak menyimpan cerita yang sangat mengesankan. Mengingat begitu banyak yang ingin saya ceritakan, sehingga saya memutuskan untuk membagi menjadi dua sesi. Ini adalah posting yang pertama, sedangkan yang kedua ada di sini.

Mulai dari proses penolakan untuk PKM di SMA Negeri 103 Jakarta, karena menurut wakil bidang kurikulum tahun lalu mata pelajaran ekonomi sudah PPL, dan tahun ini agar bergantian dengan mata pelajaran yang lain. Oh iya sedikit intermezo, untuk yang bingung antara PKM dan PPL sebenarnya hanya berbeda pada bobot SKS-nya saja. Kalau PPL 4 SKS, PKM hanya 2 SKS. Tapi sepertinya semua guru dan siswa lebih terbiasa mendengar istilah PPL, karena memang PKM baru dilaksanakan sekitar 2 tahun, dan belum semua fakultas menerapkannya.

Oke, lanjut ke cerita tentang PKM, dengan penuh perjuangan yaitu langsung menemui kepala sekolah, alhamdulillah saya dan teman-teman saya diterima. Posisi saya pada saat itu adalah saya merasa sangat bertanggung jawab karena telah membawa teman-teman saya untuk PKM di SMA Negeri 103 Jakarta yang juga kebetulan merupakan sekolah saya pada waktu SMA, maka dari itu bagaimana pun caranya saya harus mengusahakan agar bisa diterima di sana, karena memang tidak ada waktu untuk mencari sekolah lain mengingat banyaknya saingan dari universitas lainnya. Walaupun pada saat itu Bu Marianayang sekarang sudah almarhumahbegitu marah ketika mengetahui kepala sekolah sudah menyetujui. Dan saya begitu terkenal oleh guru-guru lainnya pada saat awal-awal masuk karena telah berhasil lolos dari penolakan dengan melalui kepala sekolah.

Rabu, 6 Agustus 2014 merupakan hari pertama saya masuk sekolah, dimana pada saat itu sedang diadakan acara halal bi halal. Saat itu saya merasa bahwa inilah yang disebut dengan istilah back to school, yaitu ketika saya sudah lulus dari sekolah tersebut dan masuk kembali. Namun saya kembali bukanlah sebagai murid, melainkan sebagai guru. Hari itu sekaligus hari pembagian kelas, dan ketika mengetahui saya ditugaskan mengajar X IIS 3, saya menerimanya. Saat mencatat jadwal mengajar, teman saya berkata bahwa saya mengajar dua hari. Ternyata benar, saya adalah satu-satunya yang mengajar dua hari (karena empat jam pelajaran terbagi menjadi dua). Lalu teman saya mengatakan jika saya ingin pindah ada satu kelas kosong yang tidak dipegang oleh mahasiswa, melainkan oleh guru yang bersangkutan, yaitu X IIS 2.

Jadi mahasiswa yang ditugaskan untuk mengajar kelas X hanya tiga orang, sedangkan dua orang sisanya mengajar kelas XI. Berhubung kelas X IIS ada empat kelas, maka ada satu kelas yang dipegang oleh guru pada sekolah tersebut. Ketika saya melihat jadwalnya dan kelas tersebut hanya satu hari saja, saya pun memutuskan untuk pindah mengajar pada kelas tersebut. Tidak hanya itu, saya juga memutuskan untuk pindah ke kelas tersebut tanpa izin pada guru-guru ekonomi terlebih dahulu. Padahal Bu Retno yang sudah menulis nama-nama mahasiswa dan ditugaskan mengajar kelas berapa, dan teman saya pun juga menganjurkan untuk berkompromi terlebih dahulu jika ingin pindah. Tapi karena saya merasa hal ini tidak terlalu penting untuk dibahas kembali dengan guru-guru, saya pun pindah sesuai dengan kemauan saya.

Senin, 11 Agustus 2014. Seharusnya sih tugas saya hari ini hanya observasi. Melihat guru mengajar di kelas seperti apa, dan dicatat untuk membuat laporan. Awalnya saya dan teman-teman menunggu di lab fisika karena Bu Imas merasa ruangan piket terlalu penuh oleh kami para mahasiswa. Setelah sekitar 10 menit di lab, saya pun memutuskan untuk masuk kelas karena saya tidak melihat Bu Siti Rochmani keluar dari ruang guru, dan saya merasa bahwa beliau sudah masuk ke kelas. Saya pun mengetuk pintu, dan bertanya untuk mengobservasi terlebih dahulu. Setelah diperbolehkan, saya kembali ke lab untuk mengambil tas dan masuk kembali ke dalam kelas.

Untungnya ada tempat duduk yang kosong di paling belakang, alhasil duduklah saya di situ. Sambil memperhatikan Bu Siti yang sedang memperkenalkan, saya berkata dalam hati:

"Kelas ini empat jam pelajaran, alias 180 menit. Observasi kan cuma sebentar, 10 menit juga selesai. Sedangkan ini hari pertama mereka belajar, engga mungkin langsung benar-benar belajar. Terus kalau sudah selesai observasi, gue ngapain? Masa iya langsung keluar gitu aja?"
Lagi asik mikir, tiba-tiba Bu Siti memanggil saya untuk memperkenalkan diri. Jujur, rasanya bukan kaya guru yang lagi memperkenalkan diri ke siswanya, melainkan seperti anak yang baru pindah sekolah kemudian memperkenalkan diri agar teman-temannya tahu "ada warga baru loh" -_-  Saat memperkenalkan diri, saya merasa anak-anak X IIS 2 welcome dengan saya. Walaupun saya tidak tahu bagaimana seterusnya.

Tidak lama setelah saya kembali duduk, dan Bu Siti menjelaskan sedikit materi, kemudian Bu Siti menghampiri saya dan berkata untuk melanjutkan materi karena beliau ingin ke Puskesmas. Okay, wait, what? Melanjutkan materi? Sedangkan pada hari itu saya tidak membawa apa-apa. Tapi ya tentunya saya tidak mungkin menolak. Well, anggap saja hari itu merupakan hari pertama saya mengajar, hanya bermodal yang ada di otak (karena tidak membawa buku, spidol, atau properti lainnya). Gugup? Engga. Ini juga hal yang paling saya heran dari diri saya sendiri. Di saat teman-teman saya selalu deg-degan ketika mau masuk kelas, bahkan sudah 3 bulan mengajar pun masih deg-degan. Saya justru sama sekali tidak merasakan hal tersebut, dan saya merasa aneh dengan diri saya sendiri, dan merasa ada yang tidak beres. Tapi ya sudahlah, tidak penting :D

Berhubung saat itu juga merupakan hari pertama materi, sehingga saya memutuskan untuk tidak terlalu membebani siswa dengan materi. Namun materi yang ditugaskan oleh Bu Siti akan tetap saya sampaikan. Melihat waktu yang masih sangat banyak, saya pun memulai dengan meminta mereka untuk memperkenalkan diri satu per satu ke di depan kelas. Setelah itu barulah saya masuk ke materi yang ditugaskan oleh Bu Siti.

X IIS 2

Sehari, dua hari, seminggu, tiga minggu, sebulan, saya lalui bersama dengan X IIS 2, karena memang jurusan ekonomi hanya ditugaskan untuk mengajar di satu kelas saja. Berbeda dengan jurusan lain yang ditugaskan untuk mengajar dua sampai tiga kelas. Entahlah, tapi rasanya terlalu banyak hal yang saya lalui dengan mereka. Lima bulan praktik bersama mereka nampaknya tidak cukup untuk diceritakan dalam posting saya ini. But, well... saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya bersama mereka.

1. Adinda Safira Frisky (Adin)
Kalau menurut saya, Adin itu cewek paling kreatif di X IIS 2. Engga cuma itu, paling niat juga kalau ngerjain tugas (tapi bagian menghiasnya) :p Setiap tugas yang dikerjain sama Adin engga pernah absen dari hiasan-hiasannya yang penuh warna. Bermula dari tugas pertama yaitu bikin kurva produksi TP, MP, dan AP. Waktu itu karena saya suruh kertas asturonya boleh dihias biar engga sepi, karena banyak saya lihat gambarnya pada kecil-kecil, padahal kertasnya besar banget. Ternyata tugas-tugas berikutnya pun selalu dihias oleh Adin. Kira-kira inilah hasil karya Adin kalau mengerjakan tugas. Walapun penuh warna tapi engga bikin pusing bacanya. Ekonomi jadi lebih menyenangkan kan Din kalau penuh warna gitu? Mumpung gurunya sama saya sih engga masalah. Tapi kalau sama guru aslinya nanti, agak engga disarankan sih bikin kaya gini. Bukannya apa-apa, sudah bikin bagus-bagus, tapi biasanya sih engga diperiksa. Oh iya, semoga masih inget ya Din gimana cara bikin kurvanya :D
Adin juga termasuk sering curhat sama saya, ada aja yang diceritain. Kadang cerita secara langsung, kadang lewat Line. Kata-kata sakti yang paling diingat dari Adin itu "kesle" sama "gawring". Hampir setiap ketemu Adin dua kata itu pasti diucapin. Adin juga termasuk pintar dan rajin kalau mengerjakan tugas, cuma di akhir-akhir saja mulai rada malas. Jadi Adin itu rajin atau malas ya? :D Intinya sih makasih banyak buat Adin yang sudah banyak bantuin saya dari awal sampai selesai PKM. Sebenarnya masih banyak yang bisa diceritain tentang Adin, tapi karena kasihan nanti yang lainnya engga kebagian, cukup segitu aja ya Din.

2. Afriyando (Nando)
Temen sebangkunya Inul yang tulisannya paling khas banget. Kalau mengoreksi tugas Nando, engga perlu dilihat namanya pasti bisa langsung ketahuan dari tulisannya. Nando juga satu-satu cowok yang waktu dikasih tugas pertama, langsung nanya di Line. Salut banget! Dari awal sampai pertengahan sih duduknya selalu di depan, lama-lama pindah jadi paling belakang. It's okay sih, walaupun pindah ke belakang, tapi Nando masih bisa ngikutin setiap saya mengajar. Tugas-tugas juga selalu dikerjakan, jadi engga pernah ada tanda warna-warni di kolom penilaiannya.

3. Airen Angel Pricilia (Angel)
Nah kalau yang ini, satu-satunya cewek di X IIS 2 dengan wajah ala-ala Asia (ya Indonesia juga masuk Asia) :D Awal tahu Angel bukan dari pertemuan hari pertama, tapi pertemuan selanjutnya karena waktu itu Angel engga masuk dan nanya buat tugas susulan. 
Waktu tiba-tiba Angel ketemu saya nanyain tugas, jujur bingung banget. Kirain siapa ketemu kok langsung nanyain tugas, ternyata anak X IIS 2. Lebih kenal sama Angel waktu lagi ulangan anekdot sama Bu Imas. Jadi karena ulangannya dibagi jadi dua sesi, dan Angel ada di sesi pertama. Pas sesi pertama sudah selesai, Angel nanya-nanya tentang anak OSIS waktu lagi pelantikan yang namanya Ridho. Mulai dari PDKT sampai jadian, Angel sering banget tuh curhat. Cuma PJ aja yang engga dikasih :p Apalagi waktu bagi rapot bayangan, unek-uneknya dikeluarin semua. Pokoknya setiap ketemu saya pasti curhat deh. Angel juga hobi banget sama ngajakin selfie. Paling banyak deh foto-foto selfie sama Angel, dan kalau ngajak selfie maunya yang langsung empat kali biar banyak.

4. Arni Amalia (Arni)
Wah nama belakang kita samaan haha. Kalau lagi pelajaran Ekonomi, terus nyamperin ke tempat duduknya Arni dan nanya ngerti apa engga, jawabannya cuma ada tiga: "engga", "saya bingung", sama "ngerti" tapi mukanya muka bingung (-_-") Kejadian lucu sama Arni itu gara-gara peristiwa "tas saya hilang". Jadi kira-kira  percakapannya seperti ini:
Astri: "Bu masa tas saya hilang"
Arni: "Iya bu masa tas saya hilang"
Saya: "?????" *muka bingung*
Arni: "Di dalamnya ada kamus bu"
Saya: "Emang tas siapa yang hilang?"
Astri: "Tas saya bu"
Saya: "Tas saya itu tas siapa?"
Arni: "Tas saya bu"
Saya: "Jadi tasnya Arni apa Astri?"
Arni: "Tas saya bu, ada tas Astri juga di dalamnya"
Saya: "Emang tas saya hilang di mana?" *efek masih kebingungan*
Arni: "Ih si ibu, tas saya yang hilang. Nanya ke siapa ya bu?"
Saya: "Tanya saya"
Arni: *ketawa* "Ih ini si ibu lagi kenapa sih. Ada buku juga bu di dalamnya, gantinya berapa ya nanti?"
Saya: "Ya ganti satu ajalah, emang mau ganti berapa?"
Arni: "Eh si ibu kan, saya juga tahu bu ganti satu, maksudnya harganya berapa?"
.
.
.
.
.
Entah ending dari "hilangnya tas saya" gimana.

5. Astri Kurnia Dewi (Astri)
Teman sebangkunya Arni yang paling sering galau di dalam atau di luar kelas. Paling gampang kebingungan juga. Kalau kata Ghina "Akhirnya ada yang lebih lemot dari Ghina". Itu kata Ghina loh ya bukan kata saya. Mulai lebih mengenal Astri itu sejak bagi rapot bayangan (kayanya rata-rata pas bagi rapot bayangan ya?). Nanya tips-tips untuk mengatasi cowok dengan tipe X (bukan tipe-ex ya). Kalau sudah galau, Astri pasti nangis. Apalagi waktu saya minta X IIS 2 buat foto di taman belakang. Astri duduk saja sama Arni, terus engga lama malah nangis, engga ikutan foto deh. Pas istirahat malah bikin sekolah (guru-guru sih lebih tepatnya) pada panik gara-gara katanya Astri kehirup parfum Radivan terus engga bisa napas. Di UKS Astri nangis terus dan merasa kalau di tenggorokannya itu kaya ada sesuatu yang nyangkut yang bikin jadi engga bisa napas. Gimana guru-guru engga pada panik coba? Astri, kalau pas kejadian itu kamu difoto, terus kamu lihat gimana penampilan kamu waktu lagi di UKS, mungkin kamu bakal ketawa sendiri kali ngelihatnya.

6. Aufa Syarofi (Aufa)
Kalau lagi di kelas, pasti banget selalu ngobrol sama Rival, Ocai, Fakhri. Pernah dimarahin juga sama Bu Siti waktu lagi UH-1 ya gara-gara malah diskusi sama yang lain? :D Waktu pertama lihat Aufa mirip banget sama teman SMP saya, kirain adiknya. Tapi kayanya sih bukan, engga tahu sih lebih tepatnya. Lupa mulu mau nanya, maklum sibuk haha.

7. Aulia Adliah Rahmah (Aulia)
Salah satu cewek tomboy di X IIS 2 ya kayanya? Terus kalau pas pelajaran Ekonomi paling anteng deh pokoknya di depan. Setiap ditanya "Aul ngerti?", selalu jawab "Ngerti", mantab lah. Ulangan ekonomi juga engga pernah remed loh *terharu*.

8. Chika Salsabilla (Chika)
Salah satu anggota padus dan saman di X IIS 2 yang paling semangat mencapai gelar SE. Suka ledek-ledekan sama Hesti kalau ada yang salah waktu bikin tugas. Kadang suka panik sendiri kalau jawaban tugas ekonominya beda, tapi ujung-ujungnya bilang sendiri kalau salah menghitungnya. Chika sebenarnya bisa, cuma kurang teliti aja kok. Semangat ya buat dapat FE demi mencapai gelar SE-nya, ditunggu loh kabarnya tiga tahun lagi.

9. Dhea Nandini Anindita (Dhenan)
Teman sepergalauan Angel di kelas yang (harus) selalu mendengarkan komentar Bu Siti waktu masih mengawasi saya setiap kali mengajar. Sering banget diledekin sama teman-temannya yang lain, yang paling saya ingat sih waktu Adin, Dhila, Arni, Vindi, Eka, Ghina ke meja piket dan ada es buah—yang entah punya siapa—di meja piket. Pas yang lain pada nanya itu punya siapa, dan langsung pada bilang "Hati-hati bu nanti diambil Dhenan", tapi Dhenan-nya sendiri engga dengar pas yang lain ngomong, dan cuma bisa menunjukkan muka yang kebingungan banget.

10. Dinda Syaharani Iqlima Siregar (Dinda)
Engga tahu kenapa, tapi kalau ingat Dinda kayanya ingat sama tagihan tugas :D Setiap pelajaran Ekonomi, pasti Dinda selalu kena tegur sama saya gara-gara ngobrol melulu sama Ghina. Melatih kesabaran banget deh ketemu sama Dinda. Tapi pas sudah di akhir-akhir Dinda baik kok, dari awal sih sebenarnya baik, cuma malas doang penyakitnya. Kalau kata Dinda "Saya bukan malas, hanya ada setan yang ganggu-ganggu saya terus jadinya malas deh" -_- Makasih juga sudah bantuin buat bikin biodata, sayang banget kamu engga masuk waktu hari terakhir saya ke sekolah.

Baru sepuluh orang ya? Tapi kayanya sudah terlalu panjang posting-nya. Bagi yang namanya belum disebutin, lanjut ke sesi berikutnya ya.

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo