PROLOG
Sebenarnya saya bingung harus cerita dari mana, mulainya bagaimana, dan apa aja yang harus diceritakan, karena mata kuliah Praktik Keterampilan Mengajar (PKM) ini begitu banyak menyimpan cerita yang sangat mengesankan. Mengingat begitu banyak yang ingin saya ceritakan, sehingga saya memutuskan untuk membagi menjadi dua sesi. Ini adalah posting yang pertama, sedangkan yang kedua ada di sini.
Mulai dari proses penolakan untuk PKM di SMA Negeri 103 Jakarta, karena menurut wakil bidang kurikulum tahun lalu mata pelajaran ekonomi sudah PPL, dan tahun ini agar bergantian dengan mata pelajaran yang lain. Oh iya sedikit intermezo, untuk yang bingung antara PKM dan PPL sebenarnya hanya berbeda pada bobot SKS-nya saja. Kalau PPL 4 SKS, PKM hanya 2 SKS. Tapi sepertinya semua guru dan siswa lebih terbiasa mendengar istilah PPL, karena memang PKM baru dilaksanakan sekitar 2 tahun, dan belum semua fakultas menerapkannya.
Oke, lanjut ke cerita tentang PKM, dengan penuh perjuangan yaitu langsung menemui kepala sekolah, alhamdulillah saya dan teman-teman saya diterima. Posisi saya pada saat itu adalah saya merasa sangat bertanggung jawab karena telah membawa teman-teman saya untuk PKM di SMA Negeri 103 Jakarta yang juga kebetulan merupakan sekolah saya pada waktu SMA, maka dari itu bagaimana pun caranya saya harus mengusahakan agar bisa diterima di sana, karena memang tidak ada waktu untuk mencari sekolah lain mengingat banyaknya saingan dari universitas lainnya. Walaupun pada saat itu Bu Mariana—yang sekarang sudah almarhumah—begitu marah ketika mengetahui kepala sekolah sudah menyetujui. Dan saya begitu terkenal oleh guru-guru lainnya pada saat awal-awal masuk karena telah berhasil lolos dari penolakan dengan melalui kepala sekolah.
Rabu, 6 Agustus 2014 merupakan hari pertama saya masuk sekolah, dimana pada saat itu sedang diadakan acara halal bi halal. Saat itu saya merasa bahwa inilah yang disebut dengan istilah back to school, yaitu ketika saya sudah lulus dari sekolah tersebut dan masuk kembali. Namun saya kembali bukanlah sebagai murid, melainkan sebagai guru. Hari itu sekaligus hari pembagian kelas, dan ketika mengetahui saya ditugaskan mengajar X IIS 3, saya menerimanya. Saat mencatat jadwal mengajar, teman saya berkata bahwa saya mengajar dua hari. Ternyata benar, saya adalah satu-satunya yang mengajar dua hari (karena empat jam pelajaran terbagi menjadi dua). Lalu teman saya mengatakan jika saya ingin pindah ada satu kelas kosong yang tidak dipegang oleh mahasiswa, melainkan oleh guru yang bersangkutan, yaitu X IIS 2.
Jadi mahasiswa yang ditugaskan untuk mengajar kelas X hanya tiga orang, sedangkan dua orang sisanya mengajar kelas XI. Berhubung kelas X IIS ada empat kelas, maka ada satu kelas yang dipegang oleh guru pada sekolah tersebut. Ketika saya melihat jadwalnya dan kelas tersebut hanya satu hari saja, saya pun memutuskan untuk pindah mengajar pada kelas tersebut. Tidak hanya itu, saya juga memutuskan untuk pindah ke kelas tersebut tanpa izin pada guru-guru ekonomi terlebih dahulu. Padahal Bu Retno yang sudah menulis nama-nama mahasiswa dan ditugaskan mengajar kelas berapa, dan teman saya pun juga menganjurkan untuk berkompromi terlebih dahulu jika ingin pindah. Tapi karena saya merasa hal ini tidak terlalu penting untuk dibahas kembali dengan guru-guru, saya pun pindah sesuai dengan kemauan saya.
Senin, 11 Agustus 2014. Seharusnya sih tugas saya hari ini hanya observasi. Melihat guru mengajar di kelas seperti apa, dan dicatat untuk membuat laporan. Awalnya saya dan teman-teman menunggu di lab fisika karena Bu Imas merasa ruangan piket terlalu penuh oleh kami para mahasiswa. Setelah sekitar 10 menit di lab, saya pun memutuskan untuk masuk kelas karena saya tidak melihat Bu Siti Rochmani keluar dari ruang guru, dan saya merasa bahwa beliau sudah masuk ke kelas. Saya pun mengetuk pintu, dan bertanya untuk mengobservasi terlebih dahulu. Setelah diperbolehkan, saya kembali ke lab untuk mengambil tas dan masuk kembali ke dalam kelas.
Untungnya ada tempat duduk yang kosong di paling belakang, alhasil duduklah saya di situ. Sambil memperhatikan Bu Siti yang sedang memperkenalkan, saya berkata dalam hati:
"Kelas ini empat jam pelajaran, alias 180 menit. Observasi kan cuma sebentar, 10 menit juga selesai. Sedangkan ini hari pertama mereka belajar, engga mungkin langsung benar-benar belajar. Terus kalau sudah selesai observasi, gue ngapain? Masa iya langsung keluar gitu aja?"Lagi asik mikir, tiba-tiba Bu Siti memanggil saya untuk memperkenalkan diri. Jujur, rasanya bukan kaya guru yang lagi memperkenalkan diri ke siswanya, melainkan seperti anak yang baru pindah sekolah kemudian memperkenalkan diri agar teman-temannya tahu "ada warga baru loh" -_- Saat memperkenalkan diri, saya merasa anak-anak X IIS 2 welcome dengan saya. Walaupun saya tidak tahu bagaimana seterusnya.
Tidak lama setelah saya kembali duduk, dan Bu Siti menjelaskan sedikit materi, kemudian Bu Siti menghampiri saya dan berkata untuk melanjutkan materi karena beliau ingin ke Puskesmas. Okay, wait, what? Melanjutkan materi? Sedangkan pada hari itu saya tidak membawa apa-apa. Tapi ya tentunya saya tidak mungkin menolak. Well, anggap saja hari itu merupakan hari pertama saya mengajar, hanya bermodal yang ada di otak (karena tidak membawa buku, spidol, atau properti lainnya). Gugup? Engga. Ini juga hal yang paling saya heran dari diri saya sendiri. Di saat teman-teman saya selalu deg-degan ketika mau masuk kelas, bahkan sudah 3 bulan mengajar pun masih deg-degan. Saya justru sama sekali tidak merasakan hal tersebut, dan saya merasa aneh dengan diri saya sendiri, dan merasa ada yang tidak beres. Tapi ya sudahlah, tidak penting :D
Berhubung saat itu juga merupakan hari pertama materi, sehingga saya memutuskan untuk tidak terlalu membebani siswa dengan materi. Namun materi yang ditugaskan oleh Bu Siti akan tetap saya sampaikan. Melihat waktu yang masih sangat banyak, saya pun memulai dengan meminta mereka untuk memperkenalkan diri satu per satu ke di depan kelas. Setelah itu barulah saya masuk ke materi yang ditugaskan oleh Bu Siti.
X IIS 2
Sehari, dua hari, seminggu, tiga minggu, sebulan, saya lalui bersama dengan X IIS 2, karena memang jurusan ekonomi hanya ditugaskan untuk mengajar di satu kelas saja. Berbeda dengan jurusan lain yang ditugaskan untuk mengajar dua sampai tiga kelas. Entahlah, tapi rasanya terlalu banyak hal yang saya lalui dengan mereka. Lima bulan praktik bersama mereka nampaknya tidak cukup untuk diceritakan dalam posting saya ini. But, well... saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya bersama mereka.
1. Adinda Safira Frisky (Adin)
Waktu tiba-tiba Angel ketemu saya nanyain tugas, jujur bingung banget. Kirain siapa ketemu kok langsung nanyain tugas, ternyata anak X IIS 2. Lebih kenal sama Angel waktu lagi ulangan anekdot sama Bu Imas. Jadi karena ulangannya dibagi jadi dua sesi, dan Angel ada di sesi pertama. Pas sesi pertama sudah selesai, Angel nanya-nanya tentang anak OSIS waktu lagi pelantikan yang namanya Ridho. Mulai dari PDKT sampai jadian, Angel sering banget tuh curhat. Cuma PJ aja yang engga dikasih :p Apalagi waktu bagi rapot bayangan, unek-uneknya dikeluarin semua. Pokoknya setiap ketemu saya pasti curhat deh. Angel juga hobi banget sama ngajakin selfie. Paling banyak deh foto-foto selfie sama Angel, dan kalau ngajak selfie maunya yang langsung empat kali biar banyak.
9:47 PM
Haus der Worter


Posted in: 


0 comments:
Post a Comment