Postingan gue kali ini terinspirasi dari pesta pernikahan yang gue hadiri beberapa hari yang lalu. Sesampainya gue di tempat, mengisi buku tamu, mendapatkan souvenir (pastinya), bersalaman dengan pengantinnya, dan ― tidak melupakan ― makan tentunya. Semuanya bermula saat gue lagi makan. Sambil berdiri menikmati makanan gue ― karena ga dapat tempat duduk ― sambil melihat orang-orang yang datang dan bersalaman dengan pengantinnya, tiba-tiba aja terlintas di otak gue sesuatu yang sebelumnya belum pernah terlintas di pikiran gue setiap kali menghadiri pesta pernikahan, dan hal tersebut cukup membuat gue terenyuh dalam pikiran dan perasaan gue.
Jadi gue mikir, suatu saat nanti pasti gue juga akan mengalami seperti mereka. Berdiri di atas pelaminan. Tapi yang benar-benar bikin gue mikir, nanti sama siapa gue bersanding di atas pelaminan itu? Pasangan gue nanti siapa, kaya apa, umur gue berapa pas ada di situ, pokoknya beribu-ribu pertanyaan terlintas di benak gue. Yang paling menyayat hati sih tentang gue nanti sama siapa. Well, gue emang baru 19 tahun, tapi mengingat perjalanan cinta gue, gue tahu banget yang pastinya gue ga akan bersama orang yang satu ini. Walaupun sebetulnya gue mengharap dengan amat sangat, tapi ya gue harus menepis semua harapan itu. Lantas sama siapa? Apalagi kalau tahu hati gue yang masih tertutup banget buat orang lain, terus gue kapan mendapatkan seseorang yang memang benar-benar buat gue, yang selalu ada buat gue, yang akan mendampingi gue. Punya pacar aja ga, kriteria buat pacar susah, gimana mau mengira-ngira nanti gue sama siapa. Asal jangan keburu kemakan waktu aja dalam mencari.
Sebetulnya sih kriterianya ga susah-susah amat, gue cuma mau yang usianya lebih tua dari gue, minimal 2 tahun, karena gue mau sosok yang lebih dewasa. Alasan gue ga mau yang seumuran adalah egoisnya sama, dan 'begonya' juga sama. Memang bukan berarti yang seumuran atau yang lebih muda itu ga bisa lebih dewasa daripada gue, tapi tetap gue masih mengimpikan sosok yang lebih tua dari gue, yang bisa mengayomi gue. Kalau emang jodohnya bukan yang lebih tua tapi yang seumuran juga ga masalah sih, namanya juga kalau sudah jodoh, mau bilang apa kan? Kalau ga dapat juga, yang brondong deh daripada ga sama sekali, yang penting cocok *mulai putus asa*. Terus kriteria berikutnya gue mau yang ga ngerokok, sebetulnya sih itu mutlak, tapi ya kembali ke awal tadi, kalau emang ternyata jodohnya ngerokok ya mau bilang apa. Terus gue mau kalau gue nikah nanti, orang itu sudah kerja, sudah mapan. Lebih bagus lagi kalau juga bisa mengerjakan pekerjaan perempuan, seperti nyapu, ngepel, nyuci, nyetrika, masak, walaupun sedikit tapi bisa, dan tidak malu mengerjakannya. Bukan berarti gue nanti bakal nyuruh-nyuruh, ENGGA, tapi suatu saat keterampilan tersebut dibutuhkan.
Well, entah yang barusan gue sebut itu kriteria buat pacar apa nyari suami. Tapi ya kurang lebih seperti itulah yang gue inginkan, kalau dapat alhamdulillah, kalau ga ya apa yang dapat aja lah, ga muluk-muluk deh gue. Yang jelas, gue mau kalau menjalankan sesuatu itu dengan serius, bukan yang cuma main-main, atau apalah. Jadinya ya kriteria dari pacar sampai akhirnya bisa menjadi suami.
Ah oke omongan gue semakin lama semakin ga beres, disudahi aja lah postingan gue yang satu ini, semoga segera mendapatkan yang tepat untuk kelak bersanding di samping gue nanti.
1:56 PM
Haus der Worter
Posted in: 


0 comments:
Post a Comment