Dirgahayu kota Jakarta!
Sudah semakin tua saja ya ibukota Indonesia ini. Ya, tepat hari ini, 22 Juni 2012 kota Jakarta berusia 485. Usia yang seharusnya sudah teramat sangat matang dalam mempelajari masalah-masalah apa saja yang telah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, yang seharusnya tidak diulangi. Tapi kenyataannya adalah bukan Jakarta namanya kalau ada masalah bukannya diperbaiki, tetapi malah ditumpuk, dibiarkan, dilupakan, dianggap tidak terjadi apa-apa, dihiraukan, dianggurkan.
Sebetulnya agak percuma juga kalau gue menuliskan harapan-harapan gue terhadap kota Jakarta. Pertama, harapan gue belum tentu dapat direalisasikan, karena gue hanyalah minoritas yang kalaupun bersuara tidak akan digubris. Kedua, mau se-brilliant apapun ide gue untuk memperbaiki kota Jakarta, toh juga tidak akan sampai ke telinga pihak-pihak yang duduk di sana. Ketiga, gue bukan orang Jakarta, melainkan orang Bekasi. Well, mungkin gue memang dilahirkan di Jakarta, tapi gue bertempat tinggal di Bekasi. So, seharusnya apa peduli gue kan? Tapi gue ga sejahat itu, karena biar bagaimanapun gue ini orang sibuk yang kegiatannya setiap hari ke luar kota Bekasi-Jakarta. Jadi mau ga mau gue juga harus melewati kota ini.
Kalau gue berharap Jakarta agar tidak macet lagi, gue rasa itu benar-benar impossible. Kenapa gue bilang impossible? Jelas! Coba deh kalian buka mata lebar-lebar, kendaraan di Jakarta sudah terlalu merajalela, apalagi yang namanya motor. Kalian sadar ga sih kalau bangsa kita ini sudah dibodohi oleh bangsa asing. Di luar negeri motor ga segila di Jakarta jumlahnya. Selain harga dan pajak yang mahal, mereka lebih suka menggunakan kendaraan umum. Sedangkan di negara kita, cukup bayar DP sedikit, motor sudah di tangan, bayar bisa nyicil sampai bertahun-tahun. Dalam satu keluarga, setiap orang mempunyai motor. Negara kita ini bagaikan negara pembuangan motor. Hanya negara kita yang tergila-gila dengan motor.
Kalau memang niat menuntaskan macet di Jakarta, bikin harga dan pajaknya menjadi tinggi. Dengan demikian orang menjadi berpikir untuk mempunyai kendaraan. Dan kalau mau menyuruh agar kita menggunakan kendaraan umum, perbaiki dulu kendaraannya. Gimana orang mau naik kendaraan umum kalau kondisinya tidak nyaman. Banyak orang yang enggan untuk menaiki kendaraan umum karena alasan keamanan yang sangat minim. Dicopet, ditodong, bahkan ajang untuk seseorang melampiaskan kebutuhan seksualnya. MIRIS! Selain itu kebersihan dari kendaraan umum itu sendiri yang sangat tidak diperhatikan dan juga kondisi mesin dan kelengkapan dari kendaraan tersebut.
Cuma di Jakarta yang kendaraan umumnya tidak memiliki rem tangan. Cuma di Jakarta yang kendaraan umumnya sudah tidak layak pakai, namun tetap dipaksa untuk jalan. Cuma di Jakarta yang kendaraan umumnya kalau berhenti ditanjakkan diganjal pakai batu. Gue cuma bisa geleng-geleng kepala melihat kondisi seperti ini. Sebetulnya bukan cuma di Jakarta, tetapi di Indonesia, tapi karena ini sedang membahas Jakarta, jadi cukup Jakarta yang gue bahas.
Kemudian, masalah berikutnya adalah banjir. Mau dibikin banjir kanal di setiap sudut, tapi kalau penduduknya masih buang banjir kanal, ke kali, sungai, atau saluran air lainnya ya ga ada gunanya. Kadang gue suka bingung sebetulnya, mereka yang buang sampah di kali itu emang ga tahu kalau bisa bikin banjir, pura-pura ga tahu, apa ga mau tahu sih? Kalau emang ga tahu kok kayanya kebangetan banget ya. Pura-pura ga tahu? Emang dasar orang Jakarta itu cuek-cuek gue rasa. Kalau ga mau tahu, lucunya mereka juga ga mau tahu kalau mereka terkena banjir. Langsung menuntut ini itu kepada pemerintah. Bahkan sering gue lihat ada yang menancap papan bertuliskan "Dilarang buang sampah di sini!", tapi tetap aja ada yang buang. Aduh! Ga ngerti deh gue, mata mereka ada di mana. Bukan Jakarta namanya kalau orang-orangnya ga hobi buang sampah sembarangan.
Dari hal-hal kecil aja sudah pada males untuk buang sampah di tempatnya, gimana ga terus kebawa ke kehidupan. Apalagi kalau lihat orang yang buang sampah sembarangan, padahal di depannya ada tempat sampah. WOY! Itu tempat sampah kurang besar apa ada di depan mata. OH GOD! Kenapa orang Jakarta kelakuannya pada begini semua sih. Ga ada yang peduli sama lingkungannya.
Macet, banjir, dan sampah itu merupakan masalah utama dan serius di Jakarta. Sebetulnya masih banyak lagi masalah-masalah yang dihadapi Jakarta. Saking banyaknya gue rasa blog gue ga akan cukup untuk menampung semua unek-unek gue tentang masalah yang ada di Jakarta.
Jakarta, sadarlah, usiamu sudah tidak muda lagi. Sudah terlalu berat beban yang kau pikul untuk menampung jutaan kendaraan yang terus melintas. Sudah terlalu banyak sampah-sampah yang bertebaran di mana-mana yang membuat aroma kotamu menjadi busuk. Dan kau sudah tidak mempunyai kemampuan untuk mencegah banjir yang melanda kotamu.
Gue cuma berharap pihak-pihak yang berwenang tidak hanya memberikan harapan begitu saja. Harapan yang hanya sekedar agar terpilih dalam pemilihan umum, namun setelah terpilih seolah-olah seperti tidak pernah mengatakan apa-apa. Tentunya disertai dukungan dari masyarakat kota Jakarta itu sendiri yang harus lebih sadar akan keadaan kotanya sendiri. Karena berawal dari kesadaran diri kita sendiri lah yang akan memberikan perubahan kepada kota Jakarta.
9:01 PM
Haus der Worter
Posted in: 


0 comments:
Post a Comment