Wednesday, February 8, 2012

Yang Tidak Diinginkan, yang Didapatkan

Hidup itu keras! Mungkin itu memang kata-kata yang pas, khususnya untuk kehidupan pribadi gue sendiri. Terkadang gue suka mikir, apa ya yang membuat jalan gue beda dengan orang-orang yang ada di sekitar gue. Mereka bisa dengan mudahnya berharap dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tapi rasanya itu ga berlaku buat gue.


Gue ambil contoh yang simpel aja tentang masalah sekolah. Sejak mulai memasuki SMP keinginan gue ga pernah berjalan mulus. Waktu SMP gue jatuh di pilihan kedua yaitu SMP Negeri 199, dari tiga pilihan yaitu 252, 199, dan 255. Sialnya pas tahun gue, 252 naikkin NEM-nya jadi 60,00 sedangkan NEM gue waktu itu cuma 55,80. Oh iya buat kalian yang berpikir nilai ini rendah banget, waktu jaman gue masih General Test (GT) belum UN, dan GT itu jauh lebih susah dibandingkan UN yang jelas gampang. Soal GT benar-benar ga bisa diprediksi oleh guru sekalipun, ketika GT berlangsung para guru sudah pasrah, berharap muridnya mampu mengerjakan. Sangat berbeda dengan UN yang materinya jelas, dapat diprediksi, bahkan soalnya dapat bocor. Apalagi mengingat di sini kita pakai sistem nekat dan untung-untungan. Jadi kita memilih SMP yang kita tuju terlebih dahulu sebelum kita tahu berapa NEM kita. Kalau kalian bisa nyangkut dipilihan pertama subhanallah, kedua alhamdulillah, ketiga wasyukurillah. Makanya ga jarang selama sistem GT berlangsung banyak siswa yang tidak mendapatkan SMP di manapun, selain salah perhitungan kerap terjadi, soal yang tergolong sulit, faktor beruntung juga tidak dapat dihindari. Banyak murid yang tergolong pintar tidak lolos dari salah satu pilihannya, namun sebaliknya murid yang (maaf) agak kurang pintar, justru lolos, bahkan mendapatkan SMP favorit. Oleh karena itu selama sistem GT berlangsung, banyak sekolah-sekolah yang menyediakan kelas 'khusus'. Maksudnya adalah mereka yang tidak lolos tetap bisa memasuki SMP tersebut dengan cara memberikan 'hadiah' kepada sekolah.


Begitu tahu gue tidak lolos di 252 dan mendapatkan 199, kecewa? PASTI! Awal-awal semester rasanya kelam banget, kerjaan gue setiap pagi setelah menaruh tas adalah langsung keluar dan berdiri di teras, sambil memandang ke luar dan berkata dalam hati "Kenapa gue mesti di sini, sial banget sih gue. Gue mau pindah!". Ya, itulah kata-kata yang kerap gue ucapkan setiap paginya. Hal itu berlangsung kira-kira 2,5 bulan sebelum akhirnya gue baru merasakan nyaman sekolah di sini. Niat gue untuk pindah langsung gue urungkan. Apalagi kalau ingat waktu kenaikan kelas VIII gue mau dipindahin ke 252. Jadi waktu itu setiap harinya gue pulang pukul 15.00 dan papa gue mengajukan agar bisa lebih cepat dipulangkannya agar gue bisa les komputer. Papa gue juga sudah mulai sering bertemu dan menghubungi kepala sekolah 252. Gue yang mulai ketar-ketir, gue benar-benar sudah mencabut kata-kata gue untuk pindah dari 199.


Waktu itu kepala sekolah 199 masih Ibu Nani, dan alhamdulillah beliau bisa mengabulkan perjuangan papa gue. Pulang pun menjadi pukul 13.15 untuk hari Senin sampai Kamis, dan pukul 13.00 untuk hari Jumat. Jadi waktu itu kita masuk pukul 06.45 untuk ESQ atau tadarus terlebih dahulu, dan pukul 07.00 barulah pelajaran dimulai, karena pada saat itu masuk sekolah masih pukul 07.00, sedangkan yang membuat pulang sampai menjadi pukul 15.00 adalah saat istirahat untuk shalat yang selama 1 jam. Namun sekarang 199 pulangnya sudah jauh lebih cepat yaitu 12.30. Terima kasih banyak untuk almarhum papa gue yang sudah berjuang  sekuat tenaga sampai akhirnya permintaan untuk pulang sekolah lebih awal pun dikabulkan :')


Hanya saja kalau melihat kondisi 199 saat ini sudah tidak secantik waktu gue masih sekolah di sana. Dulu sekolah ini tampak begitu asri, terawat, dan juga bersih, apalagi kamar kecil yang menjadi tongkrongan favorit semua murid. Ya, kebersihannya sangat terjaga, jauh lebih bersih daripada kamar kecil di mall-mall. Murid pun tidak sungkan untuk duduk di lantai berjam-jam, apalagi untuk melepas lelah sehabis olahraga, karena lantainya selalu kering dan bersih, tidak ada kotoran satu pun. Tapi sekarang, kondisinya sudah tidak seperti itu lagi. Kamar kecil  sama dengan kamar kecil umum lainnya yang terbilang kotor, dinding kelas yang penuh dengan coretan, lantai banyak yang retak. Gue suka sedih kalau melihat kondisi yang sekarang. Sebelum Ibu Nani pensiun, beliau begitu apik dalam merawat sekolah, tidak ada sedikitpun coretan di tembok, sampah yang berjatuhan, atau yang lainnya. Beliau begitu tegas, dan akan sangat marah dan membahasnya saat upacara berlangsung.


Mulai memasuki SMA, perjalanan gue (juga) ga mulus. Ini berawal saat ujian matematika 'berdarah'. Rasanya kesal banget kalau ingat saat itu. Gue sendiri juga ga ngerti waktu itu gue lagi kenapa, tiba-tiba pikiran gue buyar semuanya. Gue benar-benar kesusahan saat mengerjakan soal tersebut. Saat panitia mengatakan waktu tinggal 15 menit lagi, masih ada sekitar 20 soal yang belum gue jawab dari 40 soal. Bagaimana mungkin mengerjakan soal sebanyak itu dalam waktu 15 menit. Gue panik, lemes, pikiran makin ga karuan, ga bisa mikir sama sekali. Gue nangis, gue ingat banget air mata gue mengenai LJK, dan kertas gue menjadi agak hitam  di sekitar tetesan air mata gue. Gue makin panik, pikiran gue mulai yang jelek-jelek, tangan sudah gemetar buat menghitamkan jawaban. Dari sekitar 20 soal yang belum gue jawab tersebut gue jawab asal semua. Gue sudah ga ngelihat soal lagi, bisa kalian bayangkan gimana kondisi gue yang sudah ga karuan saat itu. Gue melingkari jawaban sambil nangis, tangan gemetaran, duduk depan, ga bisa nanya (lebih tepatnya takut), apalagi pas dibilang waktu sudah habis, itu gue belum selesai. Jawab asal-asalan aja gue belum selesai, apalagi kalau gue mikir. Akhirnya gue bisa menyelesaikan melingkari jawaban yang semau gue. Pulang-pulang gue nangis senangis-nangisnya orang nangis. Dari yang sebelumnya gue nyantai, baru kali ini gue mengalami yang namanya takut ga lulus. Tapi alhamdulillah gue mendapat nilai 8,00 padahal kalau gue hitung dapat 5-an, ya itulah yang disebut dengan 'bonus' dalam dunia pendidikan.


Gue mau masuk SMA 81, tapi setelah dipantau di hari pertama Penerimaan Siswa Baru (PSB), ternyata NEM gue sudah tidak mencukupi. Pindah haluan untuk ke SMA 71, di situ posisi gue memang riskan banget, tapi ya dicoba aja, siapa tahu bisa. Terus empat pilihannya apa lagi? Gue benar-benar ga mau masuk 103 dan 91, jangankan masuk, nulis di lembar pendaftaran aja gue ga mau. Gue mikir mendingan gue ga usah sekolah daripada harus sekolah di sana. Tapi mau gimana lagi benar-benar dengan teramat sangat berat hati gue harus mengisi empat kolom yang masih kosong. Alhasil gue milih 71, 103, 44, 54, 91. Begitu nama gue dipanggil dan sudah bisa mengetahui posisi gue ada di mana, gue lemes. Sedetik pun gue ga ada mampir di 71, gue langsung kelempar di 103 yang sudah dapat dipastikan gue aman di situ. Posisi gue pun ga berubah-ubah sampai hari terakhir pendaftaran.


Rasanya kelam banget pas sekolah di sana, kalau dulu sehabis menaruh tas gue selalu ke teras memandang keluar, sekarang habis naruh tas ya sudah gue diam di kelas. Mau keluar ga ada yang gue pandang, bahkan ada yang pandangan gue kehalang tembok, sial banget kan. Apalagi selama tiga tahun gue di sana ga ada sosok yang bisa gue tunggu kehadirannya, anta banget kan.


Sisi baiknya adalah pas UN gue mengerjakan matematika penuh dengan senyuman, dan untuk UN ini gue menganggapnya bukan UN lagi, tapi sudah kaya lagi TO aja. Ya mengingat gue TO 10 kali di sekolah, belum ditambah di tempat les, kenyang banget kan setiap 2 minggu sekali TO. Rasanya ga dikasih kesempatan buat napas sebentar dari yang namanya TO. Enek? Jangan ditanya. Tapi lihat sisi baik dari hasilnya, benar-benar memuaskan.


Lagi-lagi gue ga beruntung saat memasuki universitas. Padahal kesempatan ada banyak, tapi dari banyak kesempatan itu pula gue ga berkesempatan. Mulai tahun gue ada yang namanya SNMPTN undangan, sebetulnya ini hampir sama dengan PMDK. Hanya saja tahun ini PMDK sudah tidak berlaku. Bedanya kalau PMDK hanya universitas tertentu yang menyelenggarakan dan murid yang mendaftar sangat sedikit karena pihak universitas yang mengundang sekolah, jadi tidak semua sekolah kebagian jatah. Namun di SNMPTN undangan, semua sekolah mendapatkan kesempatan, dan siswa yang mendafar pun bisa sampai yang peringkat 10 besar.


Kita bisa memilih dua universitas dan masing-masing universitas tiga jurusan, yang berarti totalnya enam jurusan. Serba salah sih, pilihan sedikit peluang juga sedikit, pilihan banyak bingung milihnya. Jadi waktu itu gue milih UI dengan jurusan komunikasi, manajemen, dan administrasi niaga, sedangkan UNJ akuntansi, manajemen, dan pendidikan ekonomi. Begitu pengumuman ternyata dari keenam pilihan gue, ga ada satu pun gue berhasil nyangkut. Oke berjuang di SNMPTN tertulis yang hanya memperbolehkan dua universitas dan masing-masing universitas hanya satu jurusan. Gue memilih administrasi niaga UI dan pendidikan ekonomi UNJ. Oh iya, sama halnya dengan waktu gue milih 103, gue juga ga ada minat sama sekali untuk milih UNJ, tapi lagi-lagi gue terpaksa harus melakukannya. Alhasil gue lolos lewat jalur tertulis dan masuk di UNJ. Sebetulnya gue masih punya cadangan SIMAK UI, gue sudah bayar, tinggal tes, tapi ada beberapa pertimbangan yang membuat gue melepas ujian tersebut seperti yang sudah gue bahas sebelumnya di Kenangan Tahun 2011.


Bahkan ketika penjurusan untuk memasuki konsentrasi pun gue ga mendapat apa yang gue inginkan. CUKUP! Gue kuliah sudah tidak semangat, jangan bikin gue makin ga semangat menjalani beberapa semester ke depannya karena masalah konsentrasi. Gue capek ga pernah mendapatkan pilihan pertama gue. Gue capek kerap mendapatkan hal-hal yang justru gue ga suka. Alhasil gue datang ke kampus, mengurus tentang kepindahan konsentrasi dan alhamdulillah permohonan gue dikabulkan.


Jujur sakit banget rasanya selalu ditolak dari pilihan-pilihan gue, mulai dari SMP sampai kuliah. Ga ada satupun yang berjalan sesuai rencana dan keinginan gue. Entahlah, terkadang gue berpikir jalan gue agak berbeda dengan yang lainnya. Orang-orang di sekeliling gue bisa dengan mudahnya mendapatkan apa yang mereka harapkan dengan mulus. Lain dengan gue yang bisa dibilang harus  melalui suatu gerakan terlebih dahulu untuk mendapatkan apa yang gue mau. Bahkan kerap gue melihat mereka yang jarang beribadah justru mendapatkan apa yang mereka mau dengan mudah. Tapi itu tidak dengan gue, walaupun gue berusaha dan berdoa, tapi nampaknya Allah memberikan gue cara yang lain untuk mendapatkan apa yang gue inginkan. Gue tetap bersyukur dengan semua ini, karena gue pikir semua orang punya jalan masing-masing yang sudah digariskan.

2 comments:

TGB said...

wuih, jadinya lu pindah konsentrat?
SUPER!!

Nabilla's Pages said...

iya pindah gue.
super kenapa?

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo